Obrolan Pasien Seputar Kesehatan

Monday, September 16, 2013

Obat Herbal Versus Obat Kimia

Kita sering dengar obat herbal bisa mengobati penyakit secara alamiah tanpa efek samping, sedangkan obat kimia adalah racun.

Anggapan seperti ini tidak sepenuhnya benar.

Pertama, tidak semua obat herbal itu tanpa efek samping, semua obat efeknya bertingkat2 -baik yang herbal maupun yang kimia-.

Kedua, yang terpenting dalam pengobatan bukan masalah herbal atau kimia, tapi tepatnya sasaran/obat.



[sucipto kuncoro - ciledug, tangerang, banten - 10111434/160913 - 17:45]

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Obat Herbal Versus Obat Kimia

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

4 comments:

  1. Kalau ada iklan produk herbal yang berlebih-lebihan dalam mencela produk kimia, saya pikir itu hanya teknik bisnis agar dagangannya laris, seperti kasus penjual nasi bersertifikasi halal, yang mencerca penjual nasi yang tidak bersertifikasi seolah itu haram, padahal belum tentu.

    ReplyDelete
  2. Bahaya Obat Herbal. :: Tulisan yang sangat bagus, dan menjelaskan dengan gamblang berbagai kesalah pahaman seputar penobatan "herbal" dan "thibbun nabawi" : 

    "Ada anak kawan saya sudah positif demam tifoid (tifus) menolak antibiotic karena zat kimia, tetap diobati herbal terus masuk kondisi memburuk… Akhirnya takdir Allah pun berlaku, ia wafat. Innalillah… "

    "Barangsiapa berpraktik kedokteran padahal ia belum dikenal menguasai ilmu kedokteran, maka ia harus bertanggung jawab." 
    (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, an-Nasai)

    "Apakah pengobatan modern itu mengandung zat kimia? Ya, tapi, herbal juga zat kimia.

    Nasi, air, gula, kopi, susu, semua zat kimia. Yang penting obat modern itu halal, tidak mengandung zat-zat yang diharamkan. Bahkan pada obat modern, dosis, efek samping, reaksi alergi sudah diketahui

    Tapi sebagian besar herbal tidak diketahui dosis, efek samping, reaksi alergi. Selalu dianggap aman dan dianggap bukan zat kimia…

    Saya tidak anti herbal, setiap malam saya makan garlic (kapsul bawang putih). Tapi bila kena infeksi bakteri saya akan minum antibiotika.

    ...saya yakin penyebab kesembuhan saya bukan pada garlic atau antibiotika, hanya Allah yang menyembuhkan hamba-hamba-Nya" (melalui obat & ikhtiar tsb)

    http://www.dakwatuna.com/2013/10/20/40931/pilih-resep-nabi-atau-resep-dokter/#axzz2iHFm7eYa

    [Post from: https://plus.google.com/app/basic/stream/z12zid2h1kvpzjq2x23sfhqgto32whl1a?cbp=4mx2skjbth3n&sview=27&spath=/app/basic/100403777541206648979/posts&sparm=cbp%3D1hoq95gwkry35%26sview%3D1%26spath%3D/app/basic/stream/z125tlx44y3cy1ohm04cjb3jkuriyn34ap00k%26sparm%3Dcbp%253Dpg976ts8tcxl%2526sview%253D27%2526spath%253D/app/basic/107254428578368316321/posts%2526sparm%253Dcbp%25253Dpk1prvknn5ax%252526sview%25253D11]

    ReplyDelete
  3. Haha iya benar juga yah. Bukan soal alami atau tidaknya obat itu. Tapi soal tepat atau tidaknya sasaran kita menggunakan obat tersebut.

    ReplyDelete
  4. “ All substances are poison. There is none that is not poison, the
    right dose and indication deferentiate a poison and a remedy”

    “semua zat adalah [berpotensi menjadi] racun. Tidak ada yang tidak[berpotensi menjadi] racun. Dosis dan indikasi yang tepat membedakannya apakah ia racun atau obat”

    ReplyDelete