Bayi Dirawat Dengan Inkubator Di NICU Pakai BPJS (JKN-KIS), Adakah Biaya Tambahan?

Bayi Dirawat Dengan Inkubator Di NICU Pakai BPJS (JKN-KIS), Adakah Biaya Tambahan?


Ada sebuah pertanyaan mengenai bayi dirawat dengan inkubator menggunakan BPJS (JKN-KIS), adakah biaya tambahan?

Sebelumnya perlu anda ketahui bahwa JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) adalah program dari pemerintah yang berwujud asuransi kesehatan yang bersifat sosial dan diwajibkan kepesertaannya bagi seluruh masyarakat di Indonesia. Di dalam program JKN mencakup BPJS Kesehatan sebagai pengelolanya dan KIS (Kartu Indonesia Sehat) sebagai kartu tanda peserta. Karena masyarakat lebih mengenal JKN sebagai BPJS, kami menyebut JKN sebagai BPJS.

Pertanyaan:

Saya ikut bpjs non pbi kelas 3 dan bayi saya sedang di rumah sakit dan dirawat di inkubator, yang saya tanyakan apakah ada biaya tambahan untuk selanjutnya dan saya bayar pas waktu pulang, terimakasih.

Tanggapan:

1. Selama tidak naik kelas, maka tidak ada tambahan biaya dari peserta, walau harus dirawat dengan inkubator di ruang intensif: ICU, PICU, NICU, ICVCU, dst.

Baca Juga: Selisih Biaya Naik Kelas Perawatan, Benarkah Bayar 75%?

2. Ijin kami sampaikan apa adanya, perawatan di ruang intensif baik bagi dewasa, anak-anak maupun bayi di rumah sakit, membutuhkan biaya besar. Itu adalah tantangan besar bagi penyedia layanan. Tetapi atas nama Program JKN, sesuai regulasi, rumah sakit tetap tidak menarik biaya tambahan.
Perbedaan KIS PBI APBD dan PBI APBN, Peserta BPJS PBI Perlu Mengetahuinya

Perbedaan KIS PBI APBD dan PBI APBN, Peserta BPJS PBI Perlu Mengetahuinya


JKN (Jaminan Kesehatan Nasional adalah program jaminan kesehatan berupa asuransi kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah, lebih tepatnya program ini diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan. Karena itu seringkali masyarakat menyebut program JKN sebagai BPJS.

BPJS Kesehatan sebenarnya bukanlah badan hukum publik baru namun merupakan transformasi dari badan hukum publik milik pemerintah sebelumnya. BPJS Kesehatan didirikan tahun 1968 dengan nama Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK), kemudian pada tahun 1992 berubah menjadi PT Askes (Persero), dan pada tahun 2014 secara resmi bertransformasi menjadi BPJS Kesehatan yang menyelenggarakan Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

JKN adalah program dari pemerintahnya, BPJS adalah lembaga atau badan yang mengelolanya, dan KIS adalah kartunya.
Berobat Diabetes Mellitus Dengan BPJS, Prosedur dan Apa Saja Yang Ditanggung (2022)

Berobat Diabetes Mellitus Dengan BPJS, Prosedur dan Apa Saja Yang Ditanggung (2022)


Salah satu penyakit yang paling banyak menyerang warga dunia saat ini adalah diabetes mellitus. Penyakit diabetes atau yang juga disebut kencing manis adalah penyakit kronis yang mengganggu metabolisme tubuh dengan mempengaruhi cara tubuh mengubah makanan menjadi energi.

Penderita diabetes harus mendapatkan pengobatan sejak dini agar penyakitnya tidak berkelanjutan, bahkan jika tidak diobati dapat menimbulkan komplikasi serius seperti seperti penyakit jantung, kehilangan penglihatan, penyakit ginjal, hingga kematian.

Ada beberapa ciri-ciri gula darah naik yang perlu diwaspadai, yang mungkin adalah gejala awal dari penyakit diabetes mellitus, diantaranya:

1. Kelelahan

Merasa lelah atau letih merupakan awal ciri-ciri gula darah naik. Tak hanya pada penderita diabetes, orang dalam kondisi gula darah normal juga bisa merasa kelalahan saat gula darahnya melonjak. Salah satunya setelah makan karbohidrat sederhana dalam jumlah besar. Misalkan minuman yang sangat manis. Apabila Anda kerap mengantuk setelah makan karbohidrat atau minum manis, coba lakukan pemeriksaan kesehatan.

2. Sering buang air kecil

Ketika terlalu banyak gula dalam darah, ginjal secara otomatis akan mengeluarkan lebih banyak gula dengan cara membuangnya lewat buang air kecil (kencing). Kondisi tersebut membuat orang yang gula darahnya naik jadi lebih sering kencing.

3. Rasa haus meningkat

Setelah tubuh kehilangan banyak cairan karena sering kencing saat gula darah naik, imbasnya seseorang jadi merasa sering haus. Semakin sering seseorang buang air kecil, rasa haus yang dirasakan juga semakin sering.
Cara Merawat Gigi Palsu Agar Tidak Berbau, Terutama Gigi Tiruan Lepasan (Tips)

Cara Merawat Gigi Palsu Agar Tidak Berbau, Terutama Gigi Tiruan Lepasan (Tips)


Gigi palsu atau gigi tiruan merupakan protesa atau alat yang dipakai di rongga mulut untuk mengembalikan fungsi kunyah setelah pencabutan gigi. Secara garis besar gigi tiruan terbagi menjadi dua yaitu gigi tiruan lepasan yang bisa dipasang dan dilepas secara mandiri oleh pemakai gigi tiruan, dan gigi tiruan cekat yang secara permanen melekat di bagian rongga mulut dan hanya bisa dilepas secara profesional oleh dokter gigi.

Apapun jenis gigi tiruan yang akan dibuat, terdapat beberapa faktor yang harus dipersiapkan sebelum anda memutuskan untuk membuatkan gigi tiruan di dokter gigi anda.

1. Persiapan kondisi rongga mulut

Sebelum membuat gigi tiruan, ada beberapa faktor lokal dalam rongga mulut yang harus anda perhatikan, yaitu apakah masih ada sisa akar gigi yang harus dicabut, gigi berlubang yang perlu ditambal, maupun karang gigi yang belum dibersihkan. Untuk itu sangat penting untuk memastikan bahwa anda datang ke dokter gigi dan bukan ke tukang gigi untuk membuat gigi tiruan agar permasalahan dalam rongga mulut yang masih tersisa tersebut dapat diatasi sebelum menimbulkan masalah lain di kemudian hari.
Apakah BPJS Menanggung Biaya Pemasangan Gigi Palsu, Berapa Biayanya Yang Dicover?

Apakah BPJS Menanggung Biaya Pemasangan Gigi Palsu, Berapa Biayanya Yang Dicover?


Apa itu gigi palsu? Gigi palsu adalah alat bantu kesehatan yang dipakai untuk menggantikan gigi yang tanggal atau hilang sehingga pemakainya dapat kembali mengunyah makanan dan tersenyum dengan percaya diri. Gigi palsu terbuat dari akrilik (plastik) atau logam. Gigi tiruan 'lengkap' adalah gigi palsu yang menggantikan semua gigi asli baik di rahang atas atau bawah. Sementara gigi tiruan 'sebagian' mengisi ruang yang ditinggalkan oleh gigi yang tanggal atau hilang. Gigi palsu dapat dipasang dengan cara dikaitkan pada gigi asli dengan penjepit logam atau 'perekat presisi'.

Sebagai asurasi kesehatan, BPJS Kesehatan dapat menanggung pemasangan gigi palsu atau gigi tiruan ini. Peserta dapat menggunakan BPJS di faskes tingkat pertama (puskesmas atau klinik gigi) dan faskes rujukan tingkat lanjutan (rumah sakit). Namun sebelum memasang gigi palsu atau gigi tiruan menggunakan BPJS Kesehatan, ada beberapa ketentuan yang perlu dipahami. Oleh karena itu, mari kita membahasnya dan bagi anda peserta BPJS Kesehatan yang belum mengetahuinya, ada baiknya untuk menyimak ulasan selengkapnya berikut ini.
Akibat Iuran BPJS Tidak Dibayar 2, 3, Hingga 8 Tahun Nunggak, Setelah Lunas Langsung Aktif?

Akibat Iuran BPJS Tidak Dibayar 2, 3, Hingga 8 Tahun Nunggak, Setelah Lunas Langsung Aktif?


JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) adalah program yang diselenggarakan oleh badan hukum publik yang bernama BPJS Kesehatan, karena itu kita lebih suka menyebutnya BPJS. Sebagai asuransi kesehatan, BPJS memiliki 3 segmen kepesertaan yaitu BPJS mandiri, BPJS perusahaan dan BPJS PBI.

BPJS mandiri merupakan segmen yang memiliki kelas 1, 2 dan 3 yang iurannya dibayar secara mandiri oleh peserta pekerja bukan penerima upah dan peserta bukan pekerja. Sementara itu BPJS perusahaan merupakan segmen yang memiliki kelas 2 dan 3 yang iurannya dibayarkan oleh perusahaan dan besarannya menyesuaikan dengan gaji pokok peserta. BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran) merupakan segmen yang hanya memiliki kelas 3 yang iurannya "gratis" dibayar oleh pemerintah.

Selain segmen BPJS PBI, setiap peserta BPJS diwajibkan membayar iuran. Untuk peserta BPJS mandiri, besaran iurannya disesuaikan dengan kelas yang diambil, kelas 1 umumnya lebih mahal dari kelas 2, dan yang paling murah adalah kelas 3. Untuk peserta BPJS perusahaan, besaran iuran dibayarkan oleh perusahaan dan disesuaikan dengan gaji peserta, yaitu 5% dari gaji pokok peserta, dengan perincian 4% dibayar perusahaan dan 1% dari potongan gaji peserta.

Iuran bulanan harus dibayar setiap bulan dengan besaran yang sudah ditentukan sesuai peraturan pemerintah. Batas pembayaran iuran BPJS adalah akhir bulan berjalan. Jika iuran tidak dibayar atau nunggak, apalagi nunggak 2 tahun, 3 tahun, atau 8 tahun, maka kepesertaan BPJS menjadi nonaktif, yang artinya peserta tidak dapat mendapatkan pelayanan kesehatan yang ditanggung BPJS saat peserta sakit.
Rumah Sehat Untuk Jakarta Adalah Tagline Baru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)

Rumah Sehat Untuk Jakarta Adalah Tagline Baru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)


Tahukah Anda, bahwa rumah sakit umum daerah (RSUD) milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki tagline baru yaitu "Rumah Sehat". Apabila Anda warga Jakarta dan mengunjungi RSUD untuk berobat dengan BPJS Kesehatan, terutama di Bulan Juni Tahun 2022, pasti anda akan melihat logo Rumah Sehat sebagai tagline baru, menggantikan logo Rumah Sakit sebelumnya.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta akan memberikan tagline kepada semua rumah sakit umum daerah yang ada di DKI Jakarta yaitu "Rumah Sehat".

Plt Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr Dwi Okatvia menjelaskan, "Layanan rumah sakit tetap. memberi tambahan tagline 'Rumah Sehat' untuk rumah sakit sebagai upaya memberikan ruang untuk masyarakat mendapatkan layanan kesehatan yang komprehensif (promotif, preventif, kuratif rehabilitatif), untuk menciptakan masyarakat Jakarta yang tetap sehat dan kesehatannya termonitor," ungkapnya.
Mengenal Apa Itu Surat Rujukan Online BPJS Kesehatan dan Cara Mendapatkannya

Mengenal Apa Itu Surat Rujukan Online BPJS Kesehatan dan Cara Mendapatkannya


JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) adalah program yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk memberikan jaminan kesehatan kepada setiap warga negara indonesia baik miskin, kaya, tua maupun muda. BPJS Kesehatan adalah badan hukum publik yang menyelenggarakan JKN berbentuk asuransi kesehatan, sehingga masyarakat lebih mengenal JKN dengan istilah BPJS.

Sistem pelayanan yang digunakan oleh BPJS adalah sistem rujukan berjenjang, artinya ketika peserta BPJS ingin memeriksakan kesehatan atau berobat dengan BPJS, maka harus mengunjungi faskes tingkat 1 terlebih dahulu, sesuai yang tertera di kartu KIS peserta, yang tentunya faskes tingkat 1 tersebut sesuai pilihan peserta saat mendaftar. Namun dalam kondisi darurat medis maka peserta bisa langsung mengunjungi unit gawat darurat di rumah sakit.
Menggunakan Program Rujuk Balik (PRB) BPJS, Obat Habis Tidak Perlu Ke Rumah Sakit

Menggunakan Program Rujuk Balik (PRB) BPJS, Obat Habis Tidak Perlu Ke Rumah Sakit


Program Rujuk Balik (PRB) adalah layanan asuransi kesehatan BPJS untuk pasien penyakit kronis dengan kondisi yang sudah stabil dan membutuhkan pengobatan jangka panjang sehingga perawatan rawat jalannya dapat dilaksanakan di faskes tingkat pertama dan obat-obatannya dapat diambil di apotek yang bekerja sama dengan BPJS. Resep dan surat pengantar untuk pengambilan obat diberikan oleh klinik, puskesmas, atau dokter praktek perorangan yang menjadi faskes tingkat pertama.

Program rujuk balik menyebabkan pasien yang memiliki penyakit kronis tidak harus selalu datang berobat rawat jalan ke rumah sakit untuk mendapatkan resep dari dokter spesialis, mereka cukup datang ke faskes tingkat pertama (faskes 1) dengan membawa surat rujuk balik untuk dibuatkan salinan resep dari dokter spesialis untuk di tebus di apotek-apotek yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan guna mendapatkan obat fornas (formularium nasional) yang sudah ditanggung BPJS.

Jadi dengan adanya program rujuk balik ini sebenarnya mempermudah pelayanan BPJS untuk pasien penyakit kronis, setiap kali mereka ingin berobat ke dokter spesialis guna mendapatkan obat-obatan, mereka tidak harus setiap kali berobat ke rumah sakit dengan antri berjam-jam, cukup berobat di faskes 1 dengan membawa surat rujuk balik yang sudah dimliki.

Dengan demikian PRB ini cukup membantu meringankan beban pasien penyakit kronis karena mereka tidak harus sering berdesak-desakan dan menunggu antrian panjang di rumah sakit ketika ingin mendapatkan perawatan dari dokter spesialis.

Jenis Penyakit Kronis Apa Saja Yang Masuk Dalam Program Rujuk Balik BPJS?


Tidak semua pasien BPJS bisa memperoleh pelayanan program rujuk balik, karena program rujuk balik diperuntukan hanya untuk pasien yang memiliki penyakit kronis, dan tidak semua jenis penyakit kronis bisa masuk program rujuk balik. Ada 9 jenis penyakit kronis yang bisa memanfaatkan program rujuk balik dari BPJS, sebagai berikut:

1. Hipertensi
2. Diabetes mellitus
3. Asma
4. Jantung
5. Skizofrenia
6. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
7. Stroke
8. Lupus (SLE)
9. Epilepsi
Cara Minta Surat Rujukan BPJS Online Di Faskes 1 Atau Puskesmas Sampai Dikasih

Cara Minta Surat Rujukan BPJS Online Di Faskes 1 Atau Puskesmas Sampai Dikasih

Pada artikel ini, kita akan membahas mengenai cara minta surat rujukan BPJS online di Faskes 1 atau Puskesmas sampai dikasih. Untuk anda yang ingin mendapatkan surat rujukan BPJS agar dapat dipergunakan untuk berobat dengan BPJS di rumah sakit, mari simak ulasan berikut ini mengenai mengenai apa saja yang perlu dipersiapkan dan tata caranya agar bisa mendapatkan surat rujukan dari dokter di faskes 1, yakni puskesmas, klinik dan dokter praktik perorangan.

Siapa Yang Bisa Meminta Surat Rujukan BPJS Online?


Surat rujukan BPJS bisa anda gunakan untuk beberapa keperluan pengobatan seperti pengobatan rawat jalan, pengobatan rawat inap, pengobatan darurat dan berobat di luar kota. Surat rujukan ini dapat diberikan dokter pada faskes tingkat 1 dan peserta atau pasien yang bisa meminta rujukan adalah orang yang memenuhi persyaratan berikut.

Inilah syarat siapa pasien yang berhak meminta Surat Rujukan BPJS Online:
  • Pasien yang membutuhkan layanan kesehatan spesialistik ataupun subspesialistik.
  • Kasus medis yang menjadi kompetensi fasilitas kesehatan tingkat pertama harus selesai dengan tuntas kecuali karena keterbatasan SDM, sarana dan prasarana.

Jika kondisi peserta BPJS tidak memenuhi persyaratan tersebut maka tidak bisa dirujuk. Surat rujukan BPJS memiliki sistem online yang mana dokter harus mengisi data diagnosa pasien pada aplikasi BPJS. Diagnosa harus sesuai dengan diagnosa penyakit yang bisa dirujuk. Dan apabila kondisi pasien masih termasuk 155 penyakit yang dapat ditangani faskes 1 maka tidak bisa dirujuk.