Obrolan Pasien Seputar Kesehatan

Saturday, January 3, 2015

Apa Itu Depresi: Pengertian Depresi Secara Medis

Kita semua sering mengalami kebahagiaan dan kesedihan, tapi kita seringkali keliru membedakan kesedihan dengan pengertian depresi. Dalam dunia medis, kesedihan tidak selalu menjadi aspek dari depresi. Sikap apatis, marah dan tindakan sembrono merupakan tanda-tanda depresi.

Banyak dari kita sering bertanya-tanya bagaimana sih rasanya depresi?

Depresi bisa merintangi kemampuan anda untuk bekerja, belajar, makan, tidur, dan menikmati hidup ini. Orang dengan depresi memiliki rasa keputus-asa-an yang kuat dan konstan. Mereka yang mengalami depresi digambarkan seperti "hidup dalam lubang hitam".

Apa Itu Depresi?

Pengertian depresi adalah kondisi serius dalam dunia medis yang mempengaruhi pikiran, mood, perasaan, kebiasaan dan kesehatan fisik. Ada beberapa jenis depresi, yang paling umum adalah gangguan depresi mayor (GDM) atau Major Depressive Disorder yang merupakan gangguan depresi berat. GDM dan jenis gangguan depresi lainnya bersifat jangka panjang dan sangat mengganggu aktifitas seseorang dalam kegiatan sehari-hari seperti bekerja, belajar, tidur dan makan.

Bagian Pada Otak Yang Terpengaruh Depresi

Beberapa bagian dari otak akan menjadi kurang aktif saat depresi, dan area lainnya menjadi over aktif. Perubahan ini berkontribusi pada emosi dan kondisi fisik seseorang yang mengalami depresi

bagian pada otak yang terpengaruh depresi

Thalamus
Mengontrol tingkat gairah dan kesadaran termasuk tidur dan kewaspadaan, thalamus akan menstimulasi amygdala. Thalamus akan menjadi sangat aktif saat depresi.
Hypothalamus
Memproduksi zat neurotransmitter, yang terlibat dalam mood dan emosi seseorang, jalur serotonin di dalam hypothalamus membantu mengatur mood.
Amygdala
Memegang peranan dalam perasaan negatif, amygdala akan sangat aktif saat orang mengalami depresi.
Anterior cingulate cortex
Memegang peranan dalam mengenang memori yang berkesan dan juga mengatur emosi dan kemarahan. Bagian ini akan sangat aktif saat depresi.
Prefrontal cortex
Berperan dalam proses berfikir yang kompleks, kepribadian dan kebiasaan.

Apa itu Neurotransmitter?

Neurotransmitter adalah zat / senyawa kimia yang membawa pesan informasi antar sel-sel saraf dan mempengaruhi kebiasaan, suasana hati dan pikiran.

Depresi sangat berhubungan dengan ketidakseimbangan neurotransmitter pada otak.

Tanda dan Gejala Depresi Mayor

Seseorang mungkin mengalami depresi jika mengalami lima atau lebih gejala depresi berikut ini dan hadir lebih dari dua minggu pada suatu waktu, jika anda mengalaminya segera periksakan diri anda ke dokter terkait.

gambar gejala depresi
Tanda dan gejala depresi meliputi:
  • kehilangan minat dan kesukaan dari aktifitas yang biasa dilakukan sehari-hari
  • suasana hati yang sedih, cemas dan putus asa yang berkepanjangan
  • mudah marah dan mudah gugup
  • perasaan bersalah, takut dan tidak berguna
  • kenaikan berat badan yang signifikan karena perubahan nafsu makan
  • cepat lelah dan/atau tenaga yang berkurang
  • susah tidur atau kebanyakan tidur
  • sering menangis tapi susah menjelaskannya
  • kesulitan berkonsentrasi, mengingat dan/atau membuat keputusan
  • sedikit atau tidak berminat dalam hubungan pertemanan, persaudaraan atau sex
  • berangan-angan untuk mengakhiri hidup atau bunuh diri
Jika sudah sampai tahap ingin mengakhiri hidup atau gejala dari depresi sangat merintangi aktifitas sehari-hari, anda harus segera mencari pengobatannya.

Siapa Saja Yang Berisiko Terkena Depresi?

Meskipun depresi dipicu oleh masalah pribadi seseorang, ada beberapa faktor risiko yang mempengaruhi siapa yang menjadi depresi. Terkadang beberapa faktor risiko terkombinasi.
  • Keturunan, beberapa jenis dari depresi bisa menyerang sebuah keluarga, namun demikian tak satupun orang dengan riwayat depresi keluarga, bisa mengembangkannya menjadi gangguannya depresi.
  • Jenis Kelamin, jumlah perempuan mengalami depresi dua kali lebih banyak dari laki-laki.
  • Perubahan Hormon, perubahan hormon pasca melahirkan bisa juga menyebabkan depresi.
  • Alkohol dan Narkoba
  • Efek samping pengobatan dari sebuah penyakit, beberapa obat-obatan memiliki efek samping yang menyebabkan depresi, karenanya pasien perlu mengkonsultasikan tiap obat yang dikonsumsi kepada dokternya.
  • Peyakit yang diderita, penyakit seperti stroke, serangan jantung, kanker, gangguan hormon, infeksi virus, dan peyakit kronis lainnya seperti myasthenia gravis juga dapat menyebabkan depresi.
  • Stress, pengalaman traumatik, seperti ditinggal seorang kekasih juga menyebabkan depresi.

Jenis Penyakit Depresi Lainnya

Dysthymic Disorder (Dysthymia)
Penyakit Dysthymia adalah gangguan depresi yang lebih ringan namun lebih kronik jika dibandingkan dengan GDM. Seseorang akan mengalami depresi pada suatu hari dan normal pada hari lainnya. Dysthymia juga punya risiko besar untuk berkembang menjadi GDM.

Bipolar Disorder (Manic-Depressive Illness)
Penyakit bipolar itu seperti lingkaran intense-mood yang berputar. Seseorang akan mengalami suasana hati yang berulang-ulang dari mood yang "sangat tinggi" ke mood yang "sangat rendah" atau pergantian dari mood yang tinggi dan rendah. Saat suasana hatinya sedang tinggi, seseorang akan terlalu percaya diri, terlalu aktif berbicara, berenergi, impulsif dan berani ambil risiko. Tapi efeknya yaitu kurang tidur, mudah marah dan mengambil keputusan yang salah. Saat suasana hatinya rendah, seseorang akan mengalami depresi dan sulit berkonsentrasi.

Suicide (Mengakhiri hidup)

Orang yang mengalami depresi memiliki risiko tinggi bunuh diri jika orang tersebut merasa hidupnya tidak berguna, jika anda mengalami hal demikian, segeralah lakukan pengobatan sebelum terlambat.

Kasus depresi seperti ini harus ditangani dengan sangat serius, segera kontak dokter kesehatan mental yang profesional jika anda mengalami gejala-gejala berikut ini:
  • sering mondar-mandir, sering gelisah dan sering berubah mood-nya (gejala ini belum gawat darurat bunuh diri)
  • bertindak anarkis atau mengancam dengan kekerasan
  • mengancam atau berbicara ingin membunuh atau dibunuh
  • menjauh dari aktifitas sosial dan keluarga
  • ingin hidup sendiri dan tidak ingin berteman
  • mood yang cepat berubah setelah mengalami depresi berat
  • melakukan kebiasaan berisiko yang tidak biasa

Pengobatan Dan Terapi Depresi

Depresi seringkali dapat ditangani dengan efektif. Beberapa obat dan kondisi pengobatan juga memiliki efek menimbulkan depresi, karenanya diagnosis depresi harus dilakukan oleh dokter ahli kejiwaan mental. Jika depresi sudah terdiagnosa, pengobatan dan terapi depresi yang biasa dilakukan adalah sebagai berikut:

Obat Antidepresan
Obat-obatan ini akan menyeimbangkan senyawa kimia pemancar saraf (neurotransmitter), yang ada di otak dan butuh waktu untuk merasakan efeknya. Neurotransmitter dibutuhkan otak agar berfungsi normal. Beberapa obat antidepresan merupakan jenis obat yang sering diresepkan dokter, obat ini bisa anda coba terlebih dahulu sebelum mendapatkan terapi yang paling tepat untuk tubuh anda.

Konseling (Psikoterapi)
Konseling melibatkan pelatihan dari dokter ahli psikoterapi yang membantu seseorang mendapatkan wawasan tentang perasaan mereka dan bagaimana cara menghadapinya, mengubah kebiasaan dan menyelesaikan masalah.

Obat Penstabil Mood
Jenis obat-obatan ini membantu menstabilkan suasana hati, orang dengan bipolar biasanya menggunakan terapi obat ini untuk menstabilkan suasana hatinya yang naik turun.

Terapi Alternatif
  • Terapi Herbal, merupakan terapi yang bermanfaat untuk kasus depresi ringan, konsultasikan dengan dokter anda sebelum menggunakan obat herbal dan memilih makanan diet.
  • Berolahraga, untuk orang dengan depresi ringan, penelitian menyebutkan ada indikasi positif dari kegiatan olahraga terhadap senyawa kimia dalam otak yang dapat membantu meningkatkan mood.
sumber bacaan: aboutdepressionfacts.com

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Apa Itu Depresi: Pengertian Depresi Secara Medis

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

10 comments:

  1. Tanya pak dokter ah,
    Apa benar kalau kondisi depresi itu hanya 'menyerang' kondisi jiwa saja, bukan kondisi fisik atau tubuh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi saya bukan dokter :D

      secara tidak langsung bisa menyerang fisik

      orang yang depresi sangat mungkin terkena penyakit fisik lain seperti: sakit kepala, insomnia, kelelahan, gangguan pencernaan, peningkatan berat badan / obesitas, nyeri otot, tekanan darah tinggi bahkan serangan jantung dan stroke

      perlu dicatat bahwa depresi berbeda dengan rasa sedih
      rasa sedih bisa berangsur hilang seiring berjalannya waktu, sedangkan depresi adalah gangguan mood berkepanjangan atau berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun

      Delete
    2. Oooo, jadi istilah sekarang itu, depresi = galau tingkat akut alias gak mau move on berbulan-bulan. hehehe

      Delete
    3. Akut istilah untuk kondisi yang ganas dan prosesnya singkat.

      Lebih tepatnya galau kronik. Kronik istilah untuk kondisi yang menahun atau berlangsung lama.

      Jika galau itu sangat menggangu pikiran, mood dan perbuatan serta aktifitas hidup sehari-hari yg berlangsung berbulan-bulan. Ya, itu depresi.

      Delete
  2. Berarti para Blogger, jauh dari depresi ya Pak Dokter? Kan selalu mengingat apa yang akan ditulis, Yes!

    ReplyDelete
  3. Wah.. barusan saya posting tentang masa dimana saya pernah depresei berat. Yang hebatnya saat itu saya sadar kalau saya lagi depresi

    ReplyDelete
  4. Selalu bersyukur terhadap apa yang telah kita capai dan dapatkan, bisa juga sebagai sarana untuk menjauhkan kita dari depresi.

    ReplyDelete
  5. wah makasih ya setiap saya berkunjung kesini pasti wawasan saya bertambah, makasih ya sharenya pak dokter :)

    ReplyDelete
  6. depresi memamg penyaakit yang harus dijaga ya mas, jangan sampai itu terjadi pada kita semua :D

    ReplyDelete
  7. wah ternyata perasaan bersalah, takut dan tidak berguna itu termasuk gejala depresi ya mas?
    waduh .... :(

    ReplyDelete