Obrolan Pasien Seputar Kesehatan

Wednesday, April 29, 2015

Berhati-Hati Dengan Pengobatan Alternatif

Saat ini banyak produk-produk supplement dari segala penjuru mengklaim bisa atau bagus untuk penyembuhan berbagai jenis penyakit autoimun, mulai dari lupus, myasthenia gravis, psoriasis, rheumatoid arthritis, dan lain-lain.

Ternyata gerah banget kalau ada sales multi level marketing tiba-tiba langsung nyerocos menyarankan: "lebih baik kembali ke herbal." Atau "kenapa tidak pake herbal aja. Kan lebih aman." Atau "suplemen ini bisa mengobati penyakit apa saja. Dijamin." Dijamin langsung masuk surga ya maksudnya? Kalau produk itu menyembuhkan, tentu penyakit autoimun telah lama punah dari muka bumi.

Mereka selalu mempromosikan pengobatan instan yang dapat sembuh dalam waktu singkat sementara produk mereka dipromosikan hanya berbasis kesaksian atau testimoni. Dan kenyataannya tidak sedikit dari kami yang telah mencobanya melaporkan kondisinya justru memburuk setelah mengkonsumsinya.

Saya meyakini bahwa semua zat dapat berpotensi menjadi racun dan yang membedakan antara obat dan racun adalah indikasi dan dosis yang tepat. Tidak peduli itu dilabeli herbal atau kimia, semuanya sama. Tulisan berikut ini memberi kita pemahaman tentang pengobatan alternatif yang ternyata memiliki risiko berbahaya jika penangananannya tidak tepat dan tidak teruji secara klinis.



Oleh Fatimah Berliana Monika Purba

Ketika anak saya baca judul buku ini dikiranya ini buku soal sulap. Trus saya bilang ini buku soal kesehatan.

Buku ini dibuka dengan dua kalimat menarik dari Thomas Szasz , seorang psikiater dan akademisi State University of New York :

"When religion was strong and science weak, men mistook magic for medicine. Now, when science is strong and religion weak, men mistake medicine for magic"

Siapa bilang pengobatan alternatif hanya laris di Indonesia / Asia saja?

Ternyata orang-orang Amerika juga gemar pengobatan alternatif seperti pergi ke akupuntur, chiropractor atau naturopath untuk menghilangkan/mengurangi rasa sakit.

Mereka mengkonsumsi ginkgo untuk otak , homeopathic untuk flu , megavitamin untuk menambah energy, rempah-rempah India untuk meningkatkan kekebalan tubuh, Reiki untuk penyembuhan kanker, dan lain-lain.

Menurut dr Offit : $34 billion – a year business!
Lalu, mengapa pengobatan alternatif begitu populer?
Alasannya sederhana, dokter dianggap kurang peduli & dictator yang menawarkan penyembuhan “tidak alami” dengan efek samping yang tidak dapat ditoleransi.

Sementara pengobatan alternatif kebalikannya. Namun benarkah demikian?

Dr Offit menemukan bahwa terapi-pengobatan alternatif dapat membahayakan.

Praktik chiropractic dapat merobek arteri dan menyebabkan paralysis (loss of muscle function) permanen ; jarum akupuntur dapat menyebabkan infeksi serius ; suplemen diet dapat menyebabkan pendarahan, kerusakan liver, dan lain-lain ; megavitamin bahkan dapat meningkatkan resiko kanker.

Pelajaran yang dapat diambil adalah : walaupun pengobatan konvensional (medis – dokter) dapat mengecewakan, tapi bukan berarti pengobatan alternatif selalu diberikan “free pass”.

Semua terapi harus dibuktikan dengan standar yang tinggi, bila tidak maka masyarakat akan percaya saja (walaupun secara bukti keilmuan tidak ada yang dapat mensupport claim dari pengobatan alternatif tersebut). Dan hal ini mudah/sering terjadi ketika pada saat terjepit/kepepet dan akan mengambil jalan apa saja yang "menjanjikan" kesembuhan.

Mari kita simak kisah di bawah ini :

Kisah Joey Hofbauer .

Joey, seorang anak kecil dari New York, saat berusia 7 tahun didiagnosis menderita Hodgkin’s disease (kanker kelenjar getah bening). Pada saat itu (awal 1970), para dokter menyatakan bahwa dengan radiasi dan kemoterapi (dan proper treatment lainnya) maka kemungkinan Joey sembuh besar yaitu 95%.

Yang menjadi masalah, kedua orangtua Joey takut akan treatment tersebut , bahwa radiasi dan kemoterapi akan menyebabkan rambut rontok, muntah, diare, anemia dan efek-efek samping lainnya. Maka mereka berusaha mencari pengobatan alternatif dan tidak mengikuti saran dokter yang merawat Joey.

Kemudian Joey dan kedua orangtuanya pergi ke Jamaica untuk mencoba pengobatan alternatif. Dokter yang merawat Joey berusaha menghubungi kedua orang tua Joey karena penyakit Hodgkin’s tanpa perawatan yang benar sering fatal. Karena tidak ada jawaban maka kedua orang tua Joey dilaporkan ke Chidren service (hmm kalau di Indonesia mungkin ke Komisi Perlindungan Anak / Dinas Sosial ya?).

Salah satu UU yang melindungi kesehatan anak di US sebagai berikut : "The State, under appropriate circumstances , may provide medical care for a minor where the parent / guardian fails to do so".

Kemudian ketika mereka kembali ke US kedua orang tua Joey didatangi oleh Sheriff dan petugas dinas sosial kemudian kasus ini dimasukkan ke pengadilan keluarga. Selama itu Joey dimasukkan ke rumah sakit tanpa menerima tindakan apa-apa sampai keluar keputusan pengadilan.

Masalah berikutnya, ternyata secara diam-diam orangtua Joey memberikan Joey laetrile. Berikut ini info tambahan yang saya dapat mengenai laetrile :

Laetrile is a chemically modified form of amygdalin, a naturally-occurring substance found mainly in the kernels of apricots, peaches, and almonds. However, the terms amygdalin and Laetrile are often used interchangeably. The name Laetrile is also used to describe a closely related and partly man-made substance. Laetrile and amygdalin are promoted as alternative cancer treatments.

Overview

Available scientific evidence does not support claims that Laetrile or amygdalin is effective in treating cancer or any other disease. Both contain a small amount of a substance that can be converted to cyanide in the body, and several cases of cyanide poisoning have been linked to the use of Laetrile. The U.S. Food and Drug Administration (FDA) has not approved Laetrile as a medical treatment in the United States.

http://www.cancer.org/treatment/treatmentsandsideeffects/complementaryandalternativemedicine/pharmacologicalandbiologicaltreatment/laetrile

Kisah selanjutnya Joey selama 6 bulan menerima terapi laetrile, raw milk, cod liver oil, telur rebus, Vitamin A dosis tinggi, dan lain-lain. Tidak ada satupun diet ini yang Evidence based. Dan hasilnya?

Penyakit kanker Joey ternyata makin parah, Joey mendapat efek samping lain berupa kerusakan hati, kemungkinan besar karena vitamin A dosis tinggi yang saya sebut sebelumnya. Bahkan mual dan abdominal cramps yang dialami Joey bisa juga disebabkan karena keracunan cyanide karena pemberian laetrile dosis tinggi.

Kisah akhirnya, pada tanggal 10 July, 1980, Joey meninggal di usianya yang kesepuluh .

Kisah sedih ini, menggambarkan alasan-alasan orang kenapa tertarik pada pengobatan alternatif :
  • Tidak percaya pada pengobatan “modern” –yang telah ada EBM/Evidence Basednya
  • Pemberian vitamin dosis tinggi untuk penyembuhan penyakit dan kesehatan adalah hal yang benar
  • Percaya bahwa natural product / semua yang diklaim "alami" = lebih baik dan aman
  • Kharisma dari orang-orang yang dianggap ahli dalam hal penyembuhan (berlaku banget ini di Indonesia, gelar SH, gelar ga jelas - bukan tenaga kesehatan menawarkan berbagai terapi alternatif sampai ke media massa seperti TV)
  • Parahnya lagi point di atas diendorse/diiklankan oleh para selebritis

Akhirnya sih it’s all about business means about money alias UUD (Ujung-Ujungnya Duit)

Semoga tulisan saya kali ini bisa mengetuk pikiran dan hati orang-orang yang amat sangat anti dokter, anti tenaga kesehatan dan anti obat plus mendewakan pengobatan alternatif yang belum teruji secara klinis.
Ditulis dalam kiriman Facebook
Fatimah Berliana Monika Purba

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Berhati-Hati Dengan Pengobatan Alternatif

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

3 comments:

  1. Kenapa pada saat di rumah sakit ini gak dapat pertolongan medis sama sekali oleh dinas sosial yah. Apa memang begitu prosedurnya.

    ReplyDelete
  2. zaman sekarang memang banyak yang memilih pengobatan alternatif,tapi tetap harus hati-hati ya mas,harus lebih waspada

    ReplyDelete
  3. memang sudah seharusnya kita lebih hati-hati dan waspada, tapi yang terpenting adalah pencegahan itu lebih baik daripada mengobat.

    ReplyDelete