Obrolan Pasien Seputar Kesehatan

Tuesday, October 27, 2015

Apa Itu Attention Deficit/Hiperactivity Disorder (ADHD)?

Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas (GPPH) adalah salah satu gangguan perkembangan yang gejalanya bermula di masa kanak-kanak. Sebelum terdiagnosa, seorang anak yang memiliki gejala ADHD seringkali dipersepsi sebagai anak yang sulit mengikuti aturan serta tidak mau diam. Tak heran jika kemudian label ‘nakal’ pun disematkan oleh lingkungan. Dari kasus-kasus yang ditemui, orang tua dari anak yang didagnosa memiliki ADHD banyak yang masih bingung dengan kondisi anaknya dan tindakan apa saja yang perlu dilakukan. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang sering diajukan oleh para orang tua.

Q: “Bagaimana kriteria diagnosisnya?”
A: Diagnosa dapat ditegakkan jika anak memenuhi kriteria sebagaimana yang dibahas dalam dokumen berikut: Kriteria Diagnosis ADHD.

Q: “Anak saya memunculkan beberapa gejala seperti yang disebutkan di dokumen itu, apakah ia benar-benar dapat didiagnosa ADHD?”
A: Banyak orang tua yang kemudian khawatir setelah membaca tentang ciri-ciri ADHD. Perlu diketahui bahwa dokter dan psikolog tidak dapat mendiagnosa secara terburu-buru. Mereka akan melakukan serangkaian tes dan pengamatan. Orang tua/pengasuh juga akan diberi pertanyaan-pertanyaan terkait gejala yang dimunculkan. Berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan orang tua/pengasuh untuk memudahkan menjawab pertanyaan dokter dan psikolog, terutama jika anak yang hendak didiagnosa berada di rentang usia sekolah:
  1. Amati perilaku anak di waktu-waktu yang membutuhkan perhatian dan ketenangannya, misalnya saat mengerjakan tugas, dibacakan dongeng/cerita, makan bersama keluarga, atau di acara keagamaan.
  2. Amati perilaku anak saat ia siharapkan dapat berpikir dahulu sebelum bertindak, misalnya saat bersama kakak/adik, diajak melintasi jalan raya, ke tempat baru, atau ketika marah/merasa ‘frustrasi’
  3. Perhatikan seberapa besar pengaruh lingkungan sekitar saat mengamati anak agar orang tua/pengasuh dapat menandai pemicu perilakunya.
  4. Bicarakan tentang perilaku anak pada gurunya di sekolah. Bandingkan perilakunya di sekolah dengan di rumah/tempat les/tempat ekskul, di waktu pelajaran favorit dengan pelajaran yang tidak dapat ia tuntaskan, serta amati juga lingkungan dan situasi sekolahnya.
  5. Bicarakan dengan orang-orang lain yang biasa berinteraksi dengan anak tentang perilakunya saat sedang bersama mereka.

Q: “Anak saya didiagnosa ADHD oleh dokter/psikolog. Apa yang harus saya lakukan?”
A: Diagnosa ADHD tidak hanya tantangan bagi anak tetapi juga bagi orang tua, keluarga, dan lingkungan tempat anak beraktivitas. Berikut adalah tips umum bagi orang tua dengan anak ADHD:
  1. Diskusikan penanganannya bersama dokter, psikolog, dan terapis. Cari informasi sebanyak-banyaknya. Anda tidak setiap saat didampingi oleh dokter, psikolog, maupun terapis. Oleh karena itu, perkaya diri dengan informasi yang benar dan ilmiah.
  2. Buat aturan yang sederhana, jelas, dan singkat, tujuannya agar mudah dipahami anak. Tulis/gambarkan aturan tersebut lalu letakkan di tempat yang mudah dilihat, buat anak sebisa mungkin mengetahuinya agar ia tidak merasa tidak diberi tahu
  3. Sebisa mungkin batasi dan/atau singkirkan hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian anak, misalnya TV, kebisingan, game, dsb.
  4. Rutinitas adalah hal yang sangat penting untuk dibiasakan pada anak dengan ADHD. Buat jadwal yang teratur untuk aktivitas makan, mengerjakan tugas, bermain, dan tidur
  5. Identifikasi hal-hal yang dapat dilakukan dengan baik/tuntas oleh anak, fokus pada hal-hal tersebut.
  6. Selipkan aktivitas/hal yang disukai anak sebagai ‘hadiah’ jika anak telah menuntaskan atau berusaha menyelesaikan tugasnya, misalnya “Kamu boleh bermain bola setelah meletakkan tasmu pada tempatnya ya...”
  7. Batasi waktunya untuk mengerjakan tugas/PR. Jika waktu tersebut panjang, bagi menjadi beberapa sesi pendek. Hal ini dilakukan karena anak belum mampu mempertahankan konsentrasinya untuk waktu yang terlalu lama. Kebosanan dapat memicu perilaku-perilaku yang tidak diharapkan.
  8. Beri konsekuensi pada perilaku yang tidak sesuai aturan, misalnya dengan menunda aktivitas menyenangkan.
  9. Ekspresikan dukungan anda, hargai perilaku positif anak walaupun belum sempurna. Ingatlah bahwa kemajuan muncul dari langkah-langkah kecil.
ADHD [image source: friendshipcircle]

Q: “Ada yang menyebutkan anak saya tipe kinestetik. Apa bedanya dengan ADHD?”
A: Hal yang membedakan keduanya adalah impulsivitas. Anak kinestetik dapat dilihat sebagai anak yang 'banyak bergerak' dan umumnya masih mampu memberikan respon-respon adaptif (sesuai aturan) ataupun menunda respon jika dibutuhkan. Anak GPPH cenderung menampilkan perilaku impulsif dan tidak konsisten tujuannya.

Q: “Anak saya ADHD dan sulit tidur, bagaimana mengatasinya?”
A: Banyak anak ADHD yang mengalami masalah tidur, baik itu mereka yang mendapatkan terapi obat maupun yang tidak. Orang tua sering menggambarkan anak ADHD seperti ‘gelisah dan tidak kenal lelah’ walaupun sudah larut malam. Ada beberapa tips sederhana yang dapat diterapkan:
  1. Buat semacam ritual sebelum tidur untuk memberi tanda bahwa waktu tidur sudah tiba, misalnya dengan mematikan lampu, mengajaknya memakai piyama, atau membacakan doa tidur. Tuliskan di kertas, dan selalu ajak anak untuk melakukannya menjelang waktu tidur. Buat ritual sesederhana mungkin agar anak pun dapat melakukannya sendiri saat tidak dibantu oleh orang tua/pengasuh.
  2. Konsisten dalam menetapkan waktu tidur dan waktu bangun.
  3. Perhatikan lingkungan kamar tidurnya, seperti suhu, intensitas cahaya, dan barang-barang yang ada di kamar.
  4. Terkadang anak gelisah dan rewel di malam hari. Saking rewelnya ia sampai tertidur sendiri (lelah marah-marah ataupun menangis). Membiarkan ia tertidur seperti ini tidak direkomendasikan sebagai suatu rutinitas. Alihkan ke benda ataupun aktivitas yang membantunya berlatih menenangkan diri sendiri, misalnya mendengarkan musik lembut, atau memeluk bantal/boneka kesayangan.
  5. Sebisa mungkin jadikan kamar hanya untuk tidur. Hindari meletakkan TV, perangkat game, atau mainan-mainan yang membuat anak lebih tertarik untuk ‘melek’ daripada tidur.
  6. Terapkan rutinitas yang konsisten di siang hari untuk membantunya beradaptasi dengan rutinitas malam hari.
  7. Konsultasikan pada dokter jika anda merasa masalah tidur ini terasa sulit diatasi.

Q: “Dengan ADHD ini, anak saya harus bersekolah di mana?”
A: Anak ADHD membutuhkan lingkungan pendidikan yang dapat mengakomodasi kebutuhan-kebutuhannya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut antara lain waktu belajar, waktu istirahat, dan waktu mengerjakan tes yang disesuaikan, kurikulum khusus (jika dari hasil evaluasi kognitif anak menunjukkan kebutuhan tersebut), instruksi tambahan atas tugas-tugas yang diberikan, guru/asisten yang mendampingi anak saat mengorganisasikan tugas/kegiatannya di kelas, serta menerapkan sistem modifikasi perilaku yang konsisten. Pemenuhan atas kebutuhan ini merupakan kebijakan masing-masing sekolah. Idealnya, sekolah inklusi, SLB, atau sekolah khusus lainnya telah menerapkan kebijakan-kebijakan yang mengakomodasi siswa berkebutuhan khusus, namun anda tetap perlu men-survey dan memilih mana yang paling cocok untuk anak anda. Jangan ragu untuk berkomunikasi rutin dengan tenaga pendidik/pihak sekolah. Satu hal yang perlu diingat, jangan memaksakan anak untuk masuk sekolah jika ia belum terlihat siap untuk itu. Kesiapan sekolah tidak semata-mata dilihat dari usianya.

Q: “Apa akibatnya jika ADHD masa kanak-kanak tidak tertangani dengan tepat? Apakah berpengaruh ke perilakunya di masa dewasa?
A: ADHD yang tidak di-treatment dengan tepat dapat menimbulkan risiko-risiko seperti performa yang semakin menurun di kelas, perilaku mudah menyerah (kurang mau berusaha), temperamen yang buruk, masalah kepercayaan diri, sering mengalami cedera karena ketidakhati-hatiannya, serta kemungkinan-kemungkinan kenakalan remaja dan pola hidup yang kacau ketika dewasa.

Q: “Apakah ADHD merupakan vonis seumur hidup?”
A: Walaupun gejala ADHD dapat bertahan hingga masa dewasa, namun anak dapat mengalami proses belajar (sesuai dengan kapasitasnya) untuk mengendalikan perilakunya sedikit demi sedikit sehingga kelak ia dapat menyalurkan energi berlebihnya dalam bentuk kreativitas. Itulah pentingnya penanganan yang tepat, termasuk farmakoterapi (terapi obat-obatan) jika diperlukan.

Q: “Memiliki anak dengan ADHD bukan hal yang mudah bagi saya. Apa yang dapat saya lakukan untuk diri saya sendiri?”
A: Anda adalah orang tua istimewa, namun anda tetaplah seorang manusia. Berbagi dengan orang-orang terdekat dapat menjadi jurus yang ampuh untuk mengatasi kejenuhan. Bergabunglah dengan kelompok-kelompok pendukung untuk berbagi informasi dan penguatan seputar anak berkebutuhan khusus (misalnya parenting club, grup orang tua ABK, dsb.). Jika anda membutuhkan waktu beristirahat, ambillah waktu khusus bagi diri anda. Menyenangkan diri sendiri bukanlah hal yang salah dan semestinya tidak membuat anda merasa tertekan. Temui psikolog/konselor jika anda membutuhkan sesi konseling.

References:
  • American Academy of Pediatrics. 2002. Complete AD/HD Toolkit. Illinois: AAP
  • Sattler, J. M. 2002. Assessment of Children: Behavioral and Clinical Application (4th edition). California: Sattler Publisher, Inc.

[Disadur dari artikel Widya S. Sari, M.Psi, Clinical Psychologist RSUP Fatmawati Jakarta Selatan, berjudul: "Attention Deficit/Hiperactivity Disorder (ADHD): Q & A"]

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Apa Itu Attention Deficit/Hiperactivity Disorder (ADHD)?

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 comments:

Post a Comment