Obrolan Pasien Seputar Kesehatan

Tuesday, November 17, 2015

Beberapa Fakta Terkait Resistensi Antibiotik

Dalam rangka World Antibiotic Awareness Week ‪#‎WAAW2015 berikut‬ ini beberapa fakta tentang kenapa kita harus ‪bijak terhadap antibiotik untuk‬ mencegah resistensi antibiotik.

Lihat video ini dulu ya, kira-kira siapa yang beresiko terhadap resistensi antibiotik? (http://www.natureworldreport.com/…/video-surgery-and-cance…/)

Pernah dapat antibiotik sebelum melakukan operasi? Istilahnya antibiotik profilaksis, praktik standar untuk pasien yg dioperasi atau perawatan kanker untuk mencegah infeksi dan kematian

Berdasarkan jurnal Lancet, di USA 50% infeksi setelah operasi dan lebih dari 25% infeksi setelah kemoterapi muncul disebabkan oleh bakteri yang sudah resisten pada antibiotik profilaksis standar. Kalau bakteri sudah kebal begini, lalu mau diobati dengan apa? Karena prosedur operasi maupun kemoterapi menjadi tidak mungkin ketika pasien sudah resisten terhadap antibiotik.

Inilah salah satu alasan kenapa kita harus bijak terhadap antibiotik, Hindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu

Bagamana bijak antibiotik di‬ Indonesia? Dikutip dari (http://www.medanbisnisdaily.com/…/banyak-penggunaan-antib…/…)

Masih banyak masyarakat yang menggunakan antibiotik tidak sesuai resep. Angka resistensi bakteri akibat pemakaian antibiotik di Sumatera Utara sampai ke tingkat kritis. Sekitar 60% pasien penderita infeksi mengalami resistensi antibiotik

Kondisi ini menyulitkan bagi tenaga kesehatan untuk menentukan pilihan terapi antibiotik di rumah sakit, terutama pada pasien penderita infeksi bakteri.

Kondisi pasien yang resisten terhadap antibiotik akan sangat merugikan. Diantaranya, akan mempengaruhi masa rawat pasien, biaya pengobatan yang lebih besar dan dapat meningkatkan angka kematian

Untuk menekan angka resisten ini, pemerintah sebenarnya sudah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No 8 Tahun 2015, yakni program pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakit. Dimana setiap rumah sakit wajib melaksanakan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) secara optimal dan melaporkan ke Kementerian Kesehatan melalui Dinas Kesehatan.

Tapi masih ada dokter yang meresepkan antibiotik termasuk pada anak meskipun tidak perlu? Misalnya, dokter memberikan antibiotik untuk penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti flu. Penanganan penyakit yang disebabkan oleh virus tentunya tidak akan ampuh dengan antibiotik.
(http://health.kompas.com/…/Mengapa.Dokter.Resepkan.Antibiot….)

Penelitian di Pennsylvania USA, ini menarik. Pada penelitian sebelumnya disebutkan bahwa dokter masih meresepkan karena desakan orang tua agar memberi obat pada anak yang sedang sakit.

Penelitian terbaru menyebutkan bahwa tak satupun orangtua yang berencana untuk meminta antibiotik kepada dokter saat membawa anak mereka berobat.

Orangtua datang ke dokter untuk mengetahui apa yang terjadi dengan kesehatan anak mereka dan akan percaya saran dokter untuk pengobatan yang harus dijalani.

Penelitian yang dipublikasikan dalam IDWeek 2015 ini tak menemukan korelasi antara pengakuan dokter dan para orang tua. Menurut peneliti, mungkin saja dokter terburu-buru memberikan resep ketika sedang banyak pasien. Dalam waktu yang singkat, dokter bisa jadi tidak memiliki waktu untuk mengedukasi orangtua bahwa penggunaan antibiotik tidak selalu perlu digunakan untuk semua penyakit.(Shanti)

Salam sehat
[Disadur dari artikel Milissehat]

World Antibiotic Awareness Week 2015
_____
Cegah Resistensi Antibiotik Untuk Menyelamatkan Manusia
Tanda-tangan Petisi *"STOP...!!! Penjualan Antibiotik secara Bebas"* sebagai bentuk Kesadaran dan Kepedulian bersama.
Caranya klik disini : http://chn.ge/1SWyamk
Terima Kasih

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Beberapa Fakta Terkait Resistensi Antibiotik

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 comments:

Post a Comment