Obrolan Pasien Seputar Kesehatan

Wednesday, August 31, 2016

Virus Zika: Musuh Lama yang Muncul Kembali

Para ahli terhenyak ketika pemerintah Brazil pada akhir tahun 2015 mengumumkan adanya peningkatan drastis kejadian mikrosefali pada bayi-bayi yang baru lahir. Mikrosefali merupakan kelainan kongenital yg ditandai dengan gangguan perkembangan otak. Kepala bayi terlihat kecil. Pada saat yg sama, teridentifikasi sedang terjadi penyebaran virus Zika. Timbul dugaan kuat (yg kini sedang diinvestigasi) bahwa infeksi virus Zika pada ibu hamil menyebabkan cacat lahir pada bayi. Tidak hanya itu, kini virus Zika juga dihubungkan dengan kejadian Guillain-Barre Syndrome (GBS), suatu penyakit otoimun.

Virus Zika sejatinya bukan virus baru. Sejak pertama kali ditemukan di Uganda pada tahun 1947, virus ini telah berkali-kali menyebabkan wabah di pelbagai negara. Virus Zika secara taksonomi, berada satu keluarga dengan virus Dengue, penyebab demam berdarah. Gejalanya serupa: demam, nyeri otot, nyeri sendi, dan muncul bintik-bintik kemerahan di kulit. Keduanya pun ditularkan melalui perantara yg sama: gigitan nyamuk Aedes. Secara klinis, sulit membedakan keduanya. Indonesia merupakan negara endemis demam berdarah, sehingga secara teoritis, virus Zika sangat mudah menyebar di sini.



Keberadaan virus Zika di Indonesia dilaporkan pertama kali tahun 1977-1978 di Jawa Tengah. Saat itu 7 orang dinyatakan terinfeksi. Lama tak terdengar, virus Zika muncul kembali pada tahun 2013. Seorang turis Australia dinyatakan positif terinfeksi setelah berkunjung ke Jakarta. Pada Mei 2015, satu turis Australia lainnya terinfeksi setelah digigit monyet di Bali. Yg teranyar, lembaga biologi molekuler Eijkman melaporkan 1 kasus infeksi virus Zika pada November 2015 di Jambi.

Sayangnya, sampai hari ini, belum ada pencegahan spesifik agar tidak tertular virus Zika. Vaksinnya belum ada. Paling cepat, pengembangan vaksin virus Zika membutuhkan waktu 5-10 tahun. Yg dapat dilakukan adalah dengan menerapkan pola hidup sehat, menjaga kebersihan lingkungan, dan menghindari gigitan nyamuk Aedes.

Mayoritas kasus infeksi virus Zika sebenarnya ringan. Pengobatannya juga tidak ada yg bersifat spesifik, melainkan bersifat suportif seperti pada demam berdarah. Beberapa kasus dapat bersifat fatal dan menyebabkan kematian. Badan kesehatan dunia WHO menyebutkan bahwa saat ini virus Zika telah menyebar antarnegara dan antarbenua. Mari bersiap dan meningkatkan kewaspadaan: musuh lama ini sewaktu-waktu akan hadir kembali.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Virus Zika: Musuh Lama yang Muncul Kembali

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 comments:

Post a Comment