Obrolan Pasien Seputar Kesehatan

Tuesday, September 20, 2016

Pencegahan dan Penanganan Keracunan Makanan

Salah satu makanan yang dapat menyebabkan keracunan makanan adalah kerang hijau. Sebagian besar orang yang mengalami keracunan kerang hijau mengalami gejala berupa diare, dan nyeri perut. Sebagian lainnya juga mengalami mual, muntah dan demam.

Penyebab keracunan makanan sebenarnya banyak sekali. Namun dalam kasus keracunan makanan yang disebabkan oleh kerang hijau, maka tersangka kumannya minimal ada 3 yang dicurigai, yaitu norovirus, shigella, dan vibrio vulnificus. Masa inkubasinya sekitar 1 hari. Dengan gejala mual, muntah, nyeri perut, diare, dan bisa juga menyebabkan demam.

Berikut ini adalah beberapa cara mencegah terjadinya keracunan makan, dan penangannya bila terjadi keracunan makanan.

Pencegahan Keracunan Makanan

  • Cuci tangan, peralatan makan dan permukaan yang digunakan untuk mengolah makanan dengan cukup sering. Cuci tangan dengan air hangat, dan sabun, sebelum dan setelah menyiapkan makanan. Gunakan air panas, dan bersabun untuk mencuci alat makan, alat masak, dan permukaan yang digunakan untuk mengolah makanan.
  • Pisahkan bahan makanan mentah dengan bahan makanan siap saji. Ketika berbelanja, menyiapkan, atau menyimpan makanan, simpan daging mentah, ikan dan kerang secara terpisah dari jenis makanan lain. Ini untuk mencegah kontaminasi silang.
  • Masak makanan dengan temperatur yang aman. Cara terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan menggunakan termometer makanan. Kuman berbahaya pada kebanyakan makanan dapat dibunuh dengan memasak di suhu yang tepat.
  • Masak daging mentah setidaknya pada suhu 71.1° C. Daging kambing setidaknya pada 62.8° C, ayam pada suhu 73.9° C. Pastikan ikan dan kerang dimasak seluruhnya.
  • Simpan makanan dan masukan ke dalam kulkas segera. Dalam waktu 2 jam setelah dibeli atau disajikan. Suhu ruangan lebih dari 32° C maka harus dimasukan ke kulkas dalam 1 jam.
  • Cairkan makan yang beku dengan cara yang aman. Jangan biarkan dalam suhu temperatur. Cara terbaik adalah dengan disimpan di kulkas bagian bawah terlebih dahulu. Atau kika menggunakan microwave bisa menggunakan seting “defrost’, atau “50 percent power”. Pastikan untuk segera memasaknya.
  • Buang makanan jika merasa ragu. Jika anda ragu apakah makanan disiapkan, disajikan, dan disimpan dengan baik, lebih aman untuk dibuang saja. Makanan sisa yang berada di suhu ruangan terlalu lama akan mengandung bakteri dan racun yang tidak bisa dibunuh dengan dimasak ulang. Jangan mencicipi makanan jika ragu, lebih baik langsung dibuang. Walaupun terlihat dan tercium biasa saja, bisa jadi makanan tersebut sudah tidak aman untuk dimakan.


Keracunan makanan bisa menjadi kondisi serius pada anak yang masih kecil, ibu hamil, dan janinnya, orang tua, dan orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah. Kelompok ini harus lebih berhati-hati dan menghindari makanan sebagai berikut:
  1. Daging sapi atau unggas yang mentah
  2. Ikan, kerang, yang mentah atau kurang matang
  3. Telur, termasuk makanan yang mengandung telur, es krim home made yang mentah atau kurang matang
  4. Beberapa jenis sayuran tertentu yang mentah
  5. Jus buah yang tidak di pasteurisasi
  6. Susu dan produk susu yang tidak di pasteurisasi
  7. Keju lunak, dan sejenisnya, termasuk juga keju yang tidak di pasteurisasi
  8. Makanan daging olahan yang tidak dimasak

Penanganan Keracunan Makanan

Kunci penanganan keracunan makanan tergantung dari penyebabnya, dan seberapa berat gejalanya. Untuk kebanyakan orang, gejala akan menghilang dengan sendirinya setelah beberapa hari, meskipun beberapa jenis keracunan makanan bisa berlangsung lebih lama.

Terapi yang umumnya diperlukan adalah menggantikan cairan yang hilang akibat muntah ataupun diare. Bisa dengan minum cairan yang mengandung elektrolit seperti oralit. Jika sudah berlangsung lama dan berat, sebagian pasien perlu mendapatkan perawatan di rumah sakit, untuk mencegah dehidrasi.

Antibiotik bisa diresepkan pada jenis keracunan makanan tertentu, dan jika gejalanya berat. Sebagian jenis keracunan makanan perlu antibiotik intravena sehingga harus dirawat di rumah sakit. Semakin awal diobati maka akan semakin baik. Selama kehamilan, pengobatan antibiotik yang tepat akan mencegah infeksi mempengaruhi janin.

Orang dewasa dengan diare yang tidak berdarah, dan tidak demam, bisa minum obat yang diresepkan dokter untuk meredakan gejala yang dirasakan.
Sumber referensi: Mayo Clinic | Sumber tulisan : FB dr. Agung Zentyo Wibowo

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Pencegahan dan Penanganan Keracunan Makanan

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 comments:

Post a Comment