Obrolan Pasien Seputar Kesehatan

Monday, January 5, 2015

Saran Untuk Dokter Dalam Berkomunikasi Dengan Pasien

Seorang dokter pasti sudah belajar cara berkomunikasi yang baik dengan pasien, dukungan semangat dan perhatian penuh dari seorang dokter sangat penting bagi proses pengobatan pasien. Tentu hal ini telah dipraktekkan oleh banyak dokter terutama yang memiliki pasien dengan kondisi serius.

Sialnya... saya pernah punya pengalaman buruk dengan seorang dokter yang kurang bisa berkomunikasi, dokter tersebut lebih memilih untuk "memvonis" tanpa menerangkan secara rinci dan memberi dukungan. Kalau sudah begitu saya lebih memilih cepat-cepat keluar dari ruangan, daripada bertanya masalah pengobatan.

Pasien itu sensitif! Karenanya saya mohon kepada dokter agar lebih dapat meningkatkan cara berkomunikasi yang baik dengan pasien, agar tidak ada salah paham apalagi diduga mengarah ke malapraktek.

pasien dengan penyakit kronis cenderung mudah mengalami depresi

Jangan bilang begini dok #1

Saya mengerti apa yang anda rasakan setelah terdiagnosis kanker, saya sudah 30 tahun menjadi dokter onkologi
Pasien: Terus saya harus bilang wow begitu?

Katakan yang seperti ini:

Saya tahu ini kondisi yang sulit untuk anda dan keluarga. Saya akan bantu anda melewatinya dengan menjawab setiap pertanyaan yang anda butuhkan.

Jangan bilang begini dok #2

Tolong baca dan tandatangani surat persetujuan tindakan operasi ini.
Pasien: Singkat amat dok? maen suruh tanda tangan aja!

Ganti jadi begini:

Ada risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi saat dilakukan tindakan operasi yang lengkapnya ada di surat persetujuan tindakan ini, jadi saya ingin pastikan anda mengerti resikonya secara spesifik dan anda bisa tanya saya bila ada yang belum faham.

Jangan bilang begini dok #3

Saya tidak percaya pengobatan alternatif, sesat itu. Pokoknya anda harus minum obat sesuai resep yang saya berikan
Pasien: Nanti saya minum diam-diam loh dok!

Bilang yang lebih lembut:

Jadi anda ingin mencoba pengobatan alternatif? Saya akan cari informasi tentang obat alternatif yang anda tanyakan, tolong kontrol kembali ke saya seminggu lagi. Sementara ini, setujukah anda melanjutkan obat yang saya resepkan?

Jangan bilang begini dok #4

Penyakit Myasthenia Gravis ini seumur hidup, anda harus minum obat seumur hidup.
Pasien: Bisa ngomong lebih kenceng dok? sakitnya tuh disini kalau dokter main vonis begitu!

Pasien butuh dukungan:

Anda sabar yah, penyakit itu sembuhnya pelan-pelan, anda akan minum obat sampai gejalanya hilang, nanti dosis obatnya akan diturunkan bertahap jika gejalanya berkurang.

Jangan bilang begini dok #5

Anda menderita gagal ginjal, umur anda tinggal seminggu lagi jika tidak segera cuci darah.
Pasien: Dokter membunuh saya dengan kata-kata! :(

Pasien butuh perhatian:

Saya tahu anda pasti sangat terpukul, tapi anda masih punya harapan hidup dengan cara cuci darah atau cangkok ginjal. Jika anda belum memiliki jaminan, anda sebaiknya mengurus BPJS Kesehatan. Saya akan memberi dukungan penuh dengan menjawab setiap pertanyaan yang anda butuhkan.

Demikian, pos ini bertujuan mengingatkan kembali pentingnya menjalin komunikasi yang baik antara dokter dan pasien. Mungkin ini hanya sebagian contoh saja dan di luar sana tentu ada lebih banyak lagi pengalaman dari pasien lain.

Semoga tidak ada lagi pasien yang memberi cap dokter kasar, dokter jutek, dokter terlalu sibuk, dokter tidak mau mendengarkan keluhan dan dokter yang menjelaskan sesuatu yang tidak dimengerti pasien.

Karena kurangnya komunikasi dokter bukan masalah sakit hatinya pasien saja, hal ini juga dapat melukai kualitas pelayanan, meningkatkan biaya berobat dan meningkatkan risiko tuntutan hukum.

Rumah sakit gak bakal dapat penghasilan kalau banyak pasien yang merasa kecewa :) be patient with patient who are not patient.

______
AMEN (affirm, meet, educate, no matter what)

Tim dokter dari Johns Hopkins Kimmel Cancer Center, menciptakan sebuah mnemonic yang mengajarkan ke dokter bagaimana caranya berkomunikasi dengan pasien yang mengharapkan keajaiban.
  • Affirm the patient’s belief. Validate his or her position: “Ms X, I am hopeful, too.”
  • Meet the patient or family member where they are: “I join you in hoping (or praying) for a miracle.”
  • Educate from your role as a medical provider: “And I want to speak to you about some medical issues.”
  • No matter what, assure the patient and family you are committed to them: “No matter what happens, I will be with you every step of the way.”
“I use the AMEN mnemonic pretty much every day. Maybe my patients need more miracles than other doctors’ patients, but it is a common occurrence and an underlying theme in many people’s lives,” says Dr. Thomas Smith, the director of palliative medicine at Johns Hopkins.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Saran Untuk Dokter Dalam Berkomunikasi Dengan Pasien

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

11 comments:

  1. Haha
    Yah, memang ada beberapa dokter yang ceplas ceplos

    Tapi itu tergantung ideologi individu si dokter nya sih.
    Ada yang menganggap bahwa mental pasien adalah hal yang peling penting untuk dijaga
    Ada yang menganggap harus menyampaikan informasi sejujurnya agak keluarga pasien bisa menentukan pilihan
    Ada juga yang menganggap bahwa merek aharus tegas daripada keluarga pasien bertele-tele atau meminta sesuatu yang tidak bisa dipenuhi/tidak sesuai prosedur

    Semoga dokter2 di Indonesia kedepannya bisa lebih mahir berkomunikasi ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, setiap orang berbeda, setiap dokter berbeda, dan setiap pasien juga berbeda.

      Tapi setiap pasien ingin dokter mendengar semua keluhan, memberi dukungan dan menjelaskan terkait penyakit dan pengobatan dengan sejelas-jelasnya.

      Coba bayangin kalau anda pergi ke dokter jantung mengeluh sakit di bagian dada, belum selesai sudah dipotong "bukan bermaksud sombong, saya sudah 10 tahun bertugas di sini, jadi saya tahu betul jenis penyakit anda" terus dokternya langsung kasih resep. #bukansombongtapisongong

      Ini salah satu pengalaman saya :)

      Delete
  2. Haha itu yang biasa terjadi kebanyakan pak sucipto.... Pengen berobat malah jadi kena sakit hati. haha

    ReplyDelete
  3. Iya memang njengkelin jika bertemu dokter type "Jangan bilang begini Dok". Maksudnya mungkin sama, namun jika cara penyampaian nya kurang tepat, bisa terjadi salah paham nanti antara pasien dengan dokter.

    Namun di era sekarang ini, saya yakin para dokter sudah tidak menyampaikan maksud nya seperti itu lagi. Banyak dokter muda yang berintegritas dan memiliki skill komunikasi tinggi terhadap pasiennya agar pasien tidak tambah stress terhadap apa yang sudah di sampaikan dokternya.

    Nice info Pak Sucipto Kuncoro. :D

    ReplyDelete
  4. betul banget pak,,saya nantikaloke dokter bakal terapin hal ini..terima kasih...

    ReplyDelete
  5. karena dengan komunikasi yang baik dapat mempengaruhi terapi pengobatan pasien ke arah positif dan tentunya disertai perkembangan karir dokternya tersebut. Kadang kala karena jadwal si dokter yang padat dan memiliki jumlah pasien langganan yang banyak membuat sang dokter terlalu terburu-buru ketika konsultasi, yang akhirnya si pasien mendapatkan sedikit informasi tentang terapinya.
    semoga banyak dokter yang membaca tulisan ini ya mas.

    ReplyDelete
  6. yah kadang dokter itu merasa dia paling ahli dan paling tau mengenai penyakit dan seluk beluk penyembuhannya. semantar dia tidak mau mengakui kehebatan pengobatan alternatif, kadang obat herbal aja dia tidak mau tau. yang saya heran, kan obat-obatan juga banyak diambil dari kandungan sari buah, dau, akar, bahkan dari hewan. kok malah gak percaya ya gan?

    ReplyDelete
  7. Wahahaha ceritanya mas sucipto marah atau ngajarin dokterni. Tetapi memang benar kalau dokter perlu berkomunhkasi dengan pasiem dengan baik ramah dan memotivasi.

    ReplyDelete
  8. Jadi dokter harus banyak nyetok kesabaran ya, Bang..

    ReplyDelete
  9. Kalau dokter yang bilang kalimat-kalimat di atas itu mungkin perutnya lagi laper kali wkwkwkwk

    ReplyDelete
  10. nah kata komunikasi yang di sarankan bagus tuh lebih lembut. :)

    ReplyDelete