Obrolan Pasien Seputar Kesehatan

Thursday, October 22, 2015

Usus Buntu Pada Anak

Usus Buntu atau biasa disebut Apendiks adalah suatu organ limfoid (seperti Amandel di rongga mulut) yang membentuk produk immunoglobulin (untuk pertahanan tubuh). Letaknya umumnya di daerah kuadran kanan bawah perut, menempel bagian awal usus besar (sekum).

Bagaimana terjadinya infeksi usus buntu (Apendisitis)?

Apendiksitis terjadi apabila terdapat hambatan aliran lendir yang dihasilkan usus buntu, hambatan ini disebabkan bendungan akibat penebalan jaringan limfoid karena infeksi virus atau bakteri. Sementara hambatan terus terjadi, lendir yang dihasilkan apendiks makin banyak dan tertahan sehingga apendiks akan membangkak. Feses (kotoran) yang “terjebak” di usus buntu akan mengeras dan berbutir, ini menambah beratnya proses apendisitis. Akhirnya dinding apendiks akan menipis dan pecah (perforasi) sehingga menghasilkan nanah di rongga perut.

Pada usia berapa apendisitis terjadi?

Secara teoritis bisa terjadi pada semua usia, pada bayi apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya, sehingga jarang tersumbat, pada bayi juga jaringan limfoid masih sedikit. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden apendisitis pada usia itu. Jaringan limfoid pertama kali muncul pada apendiks sekitar 2 minggu setelah lahir. Jumlahnya meningkat selama masa pubertas, dan menetap saat dewasa dan kemudian berkurang mengikuti umur. Setelah usia 60 tahun, tidak ada jaringan limfoid lagi.

Mengapa gejala Apendisitis awalnya seperti sakit mag?

Apendiks dipersyarafi oleh syaraf Simfatis (syaraf tidak sadar) yang berasal dari syaraf thorakalis X (ruas ke X tulang belakang/punggung) yang mempersyarapi daerah uluhati, oleh karena itu appendisitis bermula di sekitar pusat-uluhati (umbilikus). Kemudian setelah apendisitis terjadi, baru terasa menetap di perut kuadran kanan bawah.

Apa pengaruhnya bila apendiks diangkat, terhadap sistem kekebalan tubuh?

Pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem kekebalan tubuh karena jumlah jaringan limfonodi diapendiks kecil sekali, jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh.

Apa saja faktor pencetus terjadinya apendisitis?

Selain pembengkakan jaringan limfoid (60%), bisa karena fekolit (feses yang mengeras) (35%), sisanya 5%, akibat : striktur (jaringan parut) akibat peradangan sebelumnya, tumor apendiks,cacing atau sebab lain (biji bijian).

Mengapa anak anak yang terkena apendisitis lebih sering pecah?

Pada anak-anak, karena lemak usus (omentum) lebih pendek, apendiks lebih panjang, dan dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya pecah (perforasi). Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.
.

Apakah apendisitis dipengaruhi kecenderungan faktor keluarga?

Beberapa teori dihubungkan dengan kelainan organ apendiks seperti terlalu panjang, pembuluh darah yang kurang baik sehingga berpengaruhi terjadinya apendisitis. Kebiasaan makanan dalam keluarga terutama diet rendah serat yang memudahkan terjadinya fekolit.

Mengapa apendisitis yang diobati dengan antibiotik, kemudian sembuh bisa berulang (apendisitis rekuren atau kronik )?

Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang lagi dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut.

Apakah gejala klinis Apendisitis akut pada anak?
  1. Nyeri perut, mula-mula nyeri dirasakan samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah uluhati (epigastrium) atau sekitar pusar (umbilikus). Setelah beberapa jam nyeri berpindah dan menetap di perut kuadran kanan bawah. 
  2. Mual-muntah biasanya pada fase awal, 
  3. Nafsu makan menurun.  
  4. Obstipasi/sembelit dan diare pada anak-anak. 
  5. Demam, Gejala appendisitis akut pada anak-anak tidak spesifik. 
Gejala awalnya sering hanya rewel dan tidak mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya. Karena gejala yang tidak spesifik ini sering diagnosis appendisitis diketahui setelah terjadi perforasi/pecah.

Selain pemeriksaan fisik dan riwayat penyakit, pemeriksaan penunjang apa yang diperlukan?

Pemeriksaan darah rutin seperti peningkatan jumlah sel darah putih (leukosit), pemeriksaan foto Rontgen perut kadang bisa terlihat bayangan fekolit yang kerat, dengan minum cairan kontras bisa melihat ada tidaknya peradangan apendiks.

Ultrasonografi (USG), CT scan juga bisa membantu diagnosis.

Ilustrasi usus buntu [image source: theasianparent]

Bagaimana penatalaksanaan apendisitis?

Bila diagnosis klinis sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah operasi apendektomi dan merupakan satu-satunya pilihan yang terbaik. Penundaan apendektomi sambil memberikan antibiotik dapat mengakibatkan pengumpulan nanah (abses) atau perforasi. Operasi apenditomi bisa dengan operasi minimal invasif (laparoskopi) dengan menggunakan alat kamera dan alat operasi yang serba kecil. Atau dengan operasi terbuka biasa.

Apakah apendisitis merupakan penyakit yang berbahaya?

Betul, bila diketahui dan didiagnosis cepat apendisitis akan cepat sembuh dan cepat pulih setelah operasi. Tetapi bila terlambat, apendisitis gangrenosa(membusuk) dan pecah, nanah akan terkumpul menjadi kumpulan nanah (abses) atau bila menyebar akan menyebabkan nenyeri seluruh perut.

[Disadur dari artikel dr.Hermanto,SpB, SpBA berjudul, "Apendisitis (Infeksi Usus Buntu) : Apakah bisa terjadi pada anak anak?"]

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Usus Buntu Pada Anak

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

1 comments:

  1. jangan sampai usus buntu melanda anak-anak kita, audzubillahiminjalik, meskipun termasuk pada operasi ringan jika pun harus di operasi, tetap saja kalau yang kenanya anak-anak mah...nggak deh

    makasih infonya ya

    ReplyDelete