Obrolan Pasien Seputar Kesehatan

Thursday, December 3, 2015

Benarkah Vaksin Menyebabkan Autisme?

Beberapa waktu lalu beredar cerita lewat Whatsapp tentang "Vaksin Penyebab Autisme", yang isinya seolah curhatan seorang ibu tentang anaknya Joey, 27 bulan, yang menderita autisme yang (katanya) disebabkan vaksin. Cukup menghebohkan bagi pembaca awam, tapi bagi kami kabar tersebut hanya propaganda lawas & murahan dari pegiat antivaksin. Bila ditelisik, latar waktu 'curhatan' tersebut kurang lebih terjadi pada tahun 2003. Awal tahun 2000an, vaksin dan autisme menjadi trending topic dunia, vaksin dituduh sebagai penyebab autisme. Hal tersebut dipicu karena ulah penelitian sesat Wakefield. Tahun 1998, Andrew Wakefield, seorang ahli bedah di Inggris, mempublikasikan penelitiannya bahwasanya vaksin MMR berhubungan dengan munculnya gejala autisme dan gangguan pada usus anak (1). Wakefield mengemukakan bahwa penelitiannya mendukung teori "Autism enterocolitis" atau "Leaky Gut Syndrome", dimana vaksin MMR menyebabkan peradangan dan kerusakan pada usus, sehingga protein-protein berbahaya beredar dalam darah sampai ke otak dan menyebabkan autisme. Berita tersebut kemudian dipropagandakan oleh pegiat anti vaksin ke seluruh Inggris, Eropa, Amerika dan seluruh dunia. Orangtua menjadi panik dan takut dengan vaksinasi, angka cakupan vaksinasi pada anak-anak anjlok, dan akibatnya mulai tahun 2005, penyakit campak, gondong kembali mewabah di negara-negara tersebut (2,3,4).

Dokter, peneliti, dan tenaga kesehatan bereaksi terhadap hasil penelitian Wakefield tersebut. Penelitian-penelitian besar diadakan untuk membuktikan apakah benar vaksin MMR menyebabkan autisme, dengan data yang lebih banyak dan metode yang lebih akurat. Hasilnya ternyata tidak ada bukti ilmiah yang mendukung bahwa vaksin dapat menyebabkan autisme (5,6,7,8,9,10).

Bagaimanapun, kebohongan tak akan dapat selamanya ditutupi. Penelitian Wakefield tersebut kemudian ternyata terbukti penuh rekayasa dan manipulasi data. Wakefield rupanya dibayar oleh pengacara dan orangtua anak-anak autis yang ia teliti untuk menyusun "bukti ilmiah" bahwa vaksin menyebabkan autisme, agar dapat memenangkan tuntutan ganti rugi di pengadilan terhadap pabrik vaksin. Wakefield kemudian disidangkan di konsil kedokteran Inggris, publikasi penelitiannya ditarik dari jurnal Lancet, dan ia dipecat dari jabatan dokternya. (11,12). Begitu besar efek isu vaksin & autisme karena kebohongan Wakefield yang menyebabkan wabah campak kembali muncul di Eropa dan Amerika, sehingga dijuluki "the most damaging medical hoax of the last 100 years"

Pegiat anti vaksin di Eropa dan Amerika umumnya adalah orang-orang yang mendapat keuntungan finansial atau popularitas dari isu bahaya vaksin. Melihat propaganda MMR dan autisme runtuh oleh penelitian-penelitian, dan terbongkarnya skandal penelitian abal-abal Wakefield, mereka tak mau kehilangan argumen untuk tetap mengkaitkan vaksin dengan autisme (karena autisme merupakan penyakit yang sedang populer saat ini, jumlah penderitanya terus meningkat, dan sangat mencemaskan bagi orang tua). Agar tidak kehilangan peminat, pegiat antivaksin beralih argumen (shifting hypotesis) bahwa merkuri (Hg) dalam vaksin dapat menyebabkan autisme, argumen lain dengan alasan yang dibuat-buat bahwa secara medis gejala keracunan metil merkuri dosis tinggi mirip dengan gejala autisme. (13)

Thimerosal, senyawa yang mengandung etilmerkuri (bukan metilmerkuri), digunakan sebagai bahan pencegah kontaminasi bakteri dan jamur, terutama pada vaksin multidosis (vaksin yang setiap satu kemasannya dapat digunakan untuk memvaksin beberapa anak)(14). Kemasan multidosis banyak digunakan pada negara miskin dan berkembang karena biayanya murah, dan lebih tahan pada sistem transportasi dan penyimpanan vaksin yang kurang baik. Semua zat di alam, tak terkecuali, memiliki batas kadar racun bila kita terpapar dalam jumlah besar. Natrium, bila masuk dalam tubuh dalam jumlah besar dapat menyebabkan kematian, namun dalam dosis kecil setiap hari kita konsumsi sebagai NaCl (garam dapur). Merkuripun demikian, telah diperhitungkan dengan cermat untuk ditambahkan pada vaksin dengan kadar yang sangat rendah dalam bentuk thimerosal (etilmerkuri) yang lebih cepat didegradasi dari tubuh sehingga tidak mudah terakumulasi (15,16). Sekedar pembanding, merkuri juga ditemukan dalam air susu ibu/ASI (17), bayi yang mendapat ASI eksklusif akan mendapat merkuri lebih dari dua kali kadar merkuri dalam vaksin, namun tentu saja tetap aman karena secara keseluruhan kadarnya rendah dan tidak berbahaya (18). Meskipun demikian, pegiat antivaksin menyebarkan hasutan bahwa merkuri dalam vaksin berdosis tinggi, sangat beracun, dan menyebabkan autisme, sehingga mengakibatkan orangtua takut memvaksinasi anaknya.


Bulan Juli 1999, Food & Drug Administration (FDA), American Academy of Pediatrics (AAP) dan Public Health Service (PHS; dari Dept Kesehatan Amerika Serikat) memutuskan thimerosal tidak dipergunakan lagi pada vaksin di Amerika, bukan karena thimerosal pada vaksin menyebabkan autisme, namun merupakan bagian upaya promosi pengurangan paparan merkuri pada anak di negara tersebut (19,20). Pabrik-pabrik di Amerika dan dunia masih banyak yang menggunakan merkuri (dalam berbagai bentuk senyawa berbahaya) dan pembuangan limbah merkuri mencemari biota laut. Akibatnya, paparan merkuri non-vaksin (metilmerkuri, terutama dari konsumsi ikan pemangsa berukuran besar) dapat meningkatkan akumulasi merkuri dalam tubuh (21). Keputusan FDA, AAP & PHS tersebut rupanya terkait pula untuk merespon hasutan pegiat antivaksin di atas: penarikan thimerosal dalam vaksin memberi kesempatan para peneliti untuk menjawab propaganda pegiat antivaksin tersebut secara ilmiah dengan penelitian-penelitian yang akurat. Dan hasilnya sangat meyakinkan, bahwa thimerosal pada vaksin sama sekali tidak ada hubungannya dengan autisme (22,23,24,25,26). Jawaban ilmiah ini dikuatkan dengan fakta bahwa meskipun thimerosal telah ditarik dari vaksin di Amerika, hingga saat ini jumlah penderita autisme di Amerika tidak turun, namun tetap meningkat (27). Sebuah fakta mudah yang tak dapat disanggah yang membuktikan pada orang awam bahwa vaksin benar-benar tidak berhubungan dengan autisme

Jacquelyn McCandless (almarhum) adalah salah seorang dokter pengobat alternatif di California, Amerika serikat. Awalnya ia membuka praktik untuk gangguan kejiwaan dan seks terapi, dengan metode alternatif, namun setelah cucunya menderita autisme pada tahun 1996, ia beralih mendalami pengobatan autisme alternatif tanpa dasar ilmiah yang jelas. McCandless mempropagandakan bahwa merkuri adalah penyebab autisme dan paham Wakefield tentang "Leaky Gut Syndrom", termasuk segala metode alternatif berbasis bukti ilmiah abal-abal yang ia tulis dalam bukunya "Children with Starving Brain". Mengaku telah menyembuhkan ratusan pasien autisme, McCandless mendapat keuntungan dari program terapi kelasi dengan program diet dan suplemen bagi penderita autisme yang datang kepadanya (28,29). Terapi kelasi McCandless mendasarkan pada teori (yang terbukti salah) bahwa autisme disebabkan karena merkuri dari vaksin, sehingga harus diberikan terapi zat pengikat logam (kelasi) pada penderita autisme. Terapi kelasi tersebut sama sekali tidak bermanfaat pada penderita autisme (30), justru membahayakan dan dapat menyebabkan kematian (31,32,33).

Sangat disayangkan buku sesat Jaquelyn McCandless beredar di Indonesia, sebuah kritik besar bagi penerbit buku tersebut karena telah menyebarkan pembodohan bagi masyarakat. Dari kasus cerita WhatsApp ini kita belajar bagaimana orangtua dan anak-anak penderita autisme seringkali dieksploitasi oleh pegiat anti vaksin dan pengobat alternatif sebagai alat propaganda dan pencari simpati. Anak-anak penderita autisme yang seharusnya mendapat kasih sayang dan stimulasi untuk berkembang seoptimal mungkin justru menjadi bahan coba-coba pengobatan alternatif tak berdasar logika, boros biaya, namun tak berguna. Di sisi lain, orangtua awam yang kurang mengenal literasi ilmiah, akan mudah diperdaya dengan isu bahaya vaksin yang dibumbui isu konspirasi, dibujuk dengan cerita mengharukan, dan ditipu teori ilmiah abal-abal, untuk tidak memvaksin anaknya. Kisah nyata wabah campak yang muncul kembali di Eropa dan Amerika seharusnya menjadi pelajaran bagi kita untuk waspada dan tanggap terhadap ulah gerakan anti vaksinasi yang mulai menyesatkan rakyat Indonesia.

Sungguh mudah menggunakan media sosial seperti WhatsApp untuk menyebarkan berita menghebohkan, kontroversial, tanpa menganalisis dan meresapinya. Mari bersikap lebih cerdas & bijak dalam menerima dan mengirimkan informasi.


Yogyakarta, 24 September 2015
Salam, Julian Sunan.
Referensi (1) Wakefield AJ, et al. 1998. Ileal-lymphoid-nodular hyperplasia, non-specific colitis, and pervasive developmental disorder in children. Lancet. 351:637-641 [ditarik]
(2) Gupta RK, Best J, MacMahon E. 2005. Mumps and the UK epidemic 2005. BMJ. 330(7500):1132–1137
(3) European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) – Surveillance and Communication Unit. 2008. Measles once again endemic in the United Kingdom. Eurosurveillance 13(27):18919
(4) Smith MJ, et al. 2008. Media coverage of the measles–mumps–rubella vaccine and autism controversy and its relationship to MMR immunization rates in the United States. Pediatrics. 121;e836–e843
(5) Madsen KM, et al. 2002. A population-based study of measles, mumps, and rubella vaccination and autism. N Eng J Med. 347(19);1477-1482.
(6) Makela A, Nuorti JP, Peltola H. 2003. Neurologic disorders after measles-mumps-rubella vaccination. Pediatrics. 110(5);957–963
(7) Jefferson T, Price D, Demicheli V, Bianco E. 2003. Unintended events following immunization with MMR: a systematic review. Vaccine. 21(25–26):3954–4014
(8) Smeeth L, et al. 2004. MMR vaccination and pervasive developmental disorders: a case-control study. Lancet. 364(9438);963-969.
(9) Hornig M, et al. 2008. Lack of association between measles virus vaccine and autism with enteropathy: A Case-Control Study. Plos One. 3(9);e3140
(10) Mrozek-Budzyn D, Kieltyka A, Majewska R. 2010. Lack of association between measles-mumps-rubella vaccination and autism in children: a case-control study. Pediatr Infect Dis J. 29(5);397–400
(11) Deer B. 2011. Secrets of the MMR scare: how the case against the MMR vaccine was fixed. BMJ. 342:c5347.
(12) Godlee F, Smith J, Marcovitch H. 2011. Wakefield's article linking MMR vaccine and autism was fraudulent. BMJ. 342;c7452
(13) Gerber JS, Offit PA. 2009. Vaccines and autism: a tale of shifting hypotheses. Clin Infect Dis. 48(4):456-518
(14) Meissner HC. 2015. Why there is a role for thimerosal in vaccines. AAP News. 36(2);8-8.
(15) Pichichero, et al. 2008. Mercury levels in newborns and infants after receipt of thimerosal-containing vaccines. Pediatrics. 121(2);e208-14
(16) Barregard L. et al. 2011. Toxicokinetics of mercury after long-term repeated exposure to thimerosal-containing vaccine. Toxicol Sci. 120(2);499-506.
(17) Gundacker C, Pietschnig B, Wittmann KJ, et al. 2002. Lead and mercury in breast milk. Pediatrics. 110:873-878.
(18) Offit P, Golden J. 2004. Thimerosal and autism. Mol Psychiatry. 9(7);644-644.
(19) Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 1999. Thimerosal in vaccines: a joint statement of the American Academy of Pediatrics and the Public Health Service. MMWR. 48(26);563.
(20) Immunization Safety Review. 2004. Vaccines and Autism. Institute of Medicine, The National Academies Press
(21) Myers GJ, Davidson PW, Strain JJ. 2007. Nutrient and methyl mercury exposure from consuming fish. J Nutr. 137(12);2805-2808.
(22) Hviid, et al. 2003. Association Between Thimerosal-Containing Vaccine and Autism. JAMA. 290(13):1763-1769
(23) Andrews N, et al .2004. Thimerosal exposure in infants and developmental disorders: a retrospective cohort study in the United Kingdom does not support a causal association. Pediatrics, 114(3);584-591.
(24) Thompson, et al. 2007. Early thimerosal exposure and neuropsychological outcomes at 7 to 10 years. N Engl J Med. 357(13);1281-1292.
(25) Barile JP, et al. 2012. Thimerosal exposure in early life and neuropsychological outcomes 7–10 years later. J Pediatr Psychol. 37(1);106-118.
(26) Taylor LE, et al. 2014. Vaccines are not associated with autism: An evidence-based meta-analysis of case-control and cohort studies. Vaccine 32(29);3623-3629.
(27) Schechter R, Grether JK. 2008. Continuing increases in autism reported to California's developmental services system: mercury in retrograde. Arch Gen Psychiatry. 65(1):19-24
(28) McCandless J. 2002. Children with Starving Brains: A Medical Treatment Guide for Autism Spectrum Disorder. Bramble Books.
(29) www.whale.to/a/candless2.html (situs pegiat antivaksin, diakses 15 September 2015)
(30) James S, Stevenson SW, Silove N, Williams K. 2015. Chelation for autism spectrum disorder (ASD). Cochrane Database Syst Rev. CD010766.
(31) Brown, M.J., T. Willis, B. Omalu, and R. Leiker. 2006. Deaths resulting from hypocalcemia after administration of edetate disodium: 2003–2005. Pediatrics. 118(2):e534–36.
(32) Beauchamp RA, et al. 2006. Deaths associated with hypocalcemia from chelation therapy—Texas, Pennsylvania, and Oregon. J Am Med Assoc. 295:2131–2133.
(33) Baxter AJ, Krenzelok EP. 2008. Pediatric fatality secondary to EDTA chelation. Clin Toxicol (Phila) 2008;46(10):1083–1084
[Disadur dari catatan FB dr. Julian Sunan, berjudul "Benarkah Vaksin menyebabkan Autisme?"]

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Benarkah Vaksin Menyebabkan Autisme?

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 comments:

Post a Comment