Obrolan Pasien Seputar Kesehatan

Monday, April 20, 2015

Mata Minus Tinggi Tidak Bisa Lahiran Normal?

Seorang wanita hamil ingin mengurus rujukan untuk operasi sesar karena kondisi matanya sudah minus di atas 10, pihak puskesmas telah memberi rujukan ke rumah sakit kemudian dokter kandungannya merujuk ke dokter mata untuk meminta pendapat apakah memang harus sesar atau tidak, tapi setelah melakukan pemeriksaan dokter mata mengatakan bahwa pasien masih bisa lahiran normal.

Pasien mengeluhkan bahwa karena menggunakan BPJS Kesehatan, dokter mempersulitnya dengan tidak merekomendasikan untuk operasi sesar sementara matanya minus tinggi. Pasien meyakini bahwa jika mata minus tinggi, resikonya sangat tinggi kalau melahirkan normal karena harus mengejan, urat matanya semakin ditarik dan bisa putus atau retina lepas. Apakah kalau terjadi apa-apa dengan matanya dokter akan bertanggung jawab?

Jawabannya

Penelitian menunjukkan bahwa minus tinggi bukanlah indikasi dari operasi sesar. [1]

Meskipun banyak penelitian yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh melahirkan normal terhadap mata minus, retina yang mau copot, paska operasi retina yang mau copot tersebut, namun para dokter kandungan masih menganggap bahwa minus tinggi tersebut adalah resiko, dengan demikian kadang malah terjadi operasi sesar yang tidak diperlukan atas dasar ketakutan tadi. [2]

Dari kutipan berikut terdapat tiga penelitian yang menyatakan bahwa tidak ada perubahan pada retina pada pasien-pasien dengan kelainan retina/minus apabila melahirkan secara normal.

On reviewing the literature we identified three prospective observational studies that investigated the effects of labour in women with the relevant retinal changes. The largest study by Neri et al. reported no retinal changes in the 50 myopic women (4.5–15D myopia) that were fundoscopically examined pre- and post-delivery, despite the identification of retinal degenerative changes (lattice-like degeneration and retinal breaks). A more recent study of similar design by Prost et al. also reported no progression of retinal changes. A smaller study by Landau et al. examined 10 women (19 deliveries) with more serious risk factors for RRD and found no signs of change postpartum. [3]

Kalau melahirkan secara normal tiba-tiba matanya buta, siapa yang bertanggung jawab? Bagaimana kalau dokter bertanya juga, kalau ada apa-apa pada saat sesar, dan ternyata menurut penelitian sebenarnya tidak perlu sesar, apakah keluarga anda akan menuntut dokter yang melakukan sesar tersebut?

Persalinan sesar bukan tanpa risiko, risikonya sangat tinggi, bahkan hingga kematian. Yuk kita lihat cara operasi sesar itu seperti apa:

Tidak ada jaminan bahwa kalau melahirkan normal mata tidak akan buta. tidak ada jaminan juga kalau melahirkan secara sesar akan aman-aman juga. Semua kembali kepada resiko dan manfaat bagi pasien. Dan dalam kedokteran, untuk mengurangi resiko tersebut, maka menggunakan bukti dari penelitian atau evidence based medicine, dan penelitian ternyata memperlihatkan bahwa mata minus tinggi bukanlah indikasi untuk dilakukannya operasi sesar. Dokter mata tersebut sudah benar menganjurkan bahwa bisa dilakukan persalinan secara normal.

Bahkan penelitian tahun 1985 terhadap 50 wanita dengan minus 4,5 sampai 15 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan hasil pemeriksaan mata pada sebelum dan sesudah persalinan secara normal. Kalau sebelum melahirkan ada retina yang mau copot, maka setelah melahirkan, retinanya tetap sama, copotnya tidak bertambah. [4]

Penelitian tahun 2014, di Kanada, dokter mata cenderung menyarankan kelahiran normal, sedangkan dokter kandungan cenderung menyarankan operasi sesar, hal ini disebabkan dokter kandungan masih banyak yang menggunakan penelitian lama. Padahal tidak masalah untuk melahirkan secara normal. [5]

Di Kroasia, tidak ada satu laporan penelitian yang menghubungkan copotnya retina dengan kelahiran pada wanita minus. Namun minus dianggap sebagai indikasi di beberapa negara eropa. Padahal sejak tahun 1985 sudah direkomendasikan agar memperbolehkan pasien minus tinggi untuk melahirkan secara spontan untuk mengindari pembedahan yang berlebihan.

There is not even a single report in the literature of a case that can connect retinal detachment and childbirth in myopic women. However, myopia is considered as an indication for cesarean section in some European countries. Our retrospective study comprised all women diagnosed with myopia during or before pregnancy, who delivered during period 1993– 2002 in the Department of Obstetrics and Gynecology, University Clinical Hospital Rijeka. Our study confirms the practice of myopia as indication for cesarean section in Croatia, although strong recommendations to allow high myopic patients deliver spontaneously arose as far back as 1985. It is essential to recognize scientific or non-scientific criteria for operative delivery in order to avoid the surgical overtreatment. [6]
Foto: Watery Eyes

Kesimpulannya

1. Ibu disarankan gunakan hati nurani ibu apakah ibu merasa mampu melahirkan normal, jika memang ragu-ragu dan mau sesar itu adalah hak ibu sebagai pasien dan ibu memiliki hak untuk meminta second opinion , apalagi di Jakarta yang banyak rumah sakit dan dokter kebidanan.

2. Jangan hubungkan dengan ibu pasien BPJS Kesehatan atau bukan, karena asuransi perorangan mahal seperti prudential dan axa dengan biaya 500 ribu-1 juta/bulan pun tidak mengcover persalinan normal atau persalinan sesar dengan minus tinggi kecuali ibu membeli paket khusus persalinan yang preminya jauh lebih tinggi dari 500 ribu-1 juta/bulan, jadi kehamilan adalah sesuatu yang dapat direncanakan

3. Ketahanan seseorang terhadap penyakit dan tindakan berbeda beda, ada nenek nenek umur 80 tahun dengan penyakit komplikasi kronis tapi masih bisa berlari dan tertawa tawa, ada juga umur 65 tahun sakit ringan tapi sudah mengarah ke arah depresi dan membutuhan perawatan jangka panjang (LTC), dokter mata melihat ibu adalah wanita yang tangguh apalagi di literatur memang mengatakan tidak bermasalah jika melahirkan normal, namun keputusan adalah di tangan ibu, ibu berhak tidak percaya pada dokter mata dan mencari second opinion, keputusan semua di tangan ibu.
______
1. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9026570
2. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12745550
3. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3085969/
4. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/4018367
5. http://www.canadianjournalofophthalmology.ca/article/S0008-4182%2814%2900371-8/abstract
6. https://bib.irb.hr/prikazi-rad?lang=EN&rad=385391
Source: dr. Adi Setiadi

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Mata Minus Tinggi Tidak Bisa Lahiran Normal?

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

2 comments:

  1. Jadi lebih baik mana ya, sesar atau normal..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang jelas minus tinggi bukan indikasi sesar. Indikasi sesar umumnya panggul sempit, letak bayi melintang, penyakit tertentu, dll. Baiknya ikuti saran dokternya.

      Delete