Obrolan Pasien Seputar Kesehatan

Wednesday, November 9, 2016

Penggunaan Obat Pada Ibu Hamil

Sebagian ibu hamil ada yang kemudian sakit dan memerlukan obat-obatan. Tentu saja berbeda dengan kondisi sebelum hamil, penggunaan obat-obatan harus diperhatikan karena menyangkut aspek keamanan terutama bagi janin. Termasuk dalam kelompok obat-obatan adalah yang diresepkan oleh dokter, bisa dibeli di apotek, supermarket, toko/warung yang dijual bebas, juga termasuk herbal, obat tradisional dan vitamin.

Menghindari obat-obatan saat kehamilan tidak selalu mudah. Sebagian ibu hamil punya kondisi kesehatan tertentu yang memang membutuhkan konsumsi obat-obatan selama kehamilan. Bisa jadi kondisi awal kehamilan seperti “morning sickness”, nyeri ulu hati, yang membutuhkan obat. Lebih baiknya tanya dan konsultasikan dulu ke dokter sebelum konsumsi jenis obat apapun.

Pada umumnya setiap obat memiliki keterangan pada kemasannya, yang menjelaskan apakah obat tersebut berbahaya/harus dihindari oleh ibu hamil. Tunjukan pada dokter untuk membantu melihat apakah obat tersebut aman atau tidak, perlu sekali atau bisa diganti dengan yang lebih aman.

Ilustrasi ibu hamil minum obat

Berikut ini akan dibahas beberapa kondisi yang mungkin bisa dialami, dan obat-obatannya.

Alergi


Gejalanya seperti hidung tersumbat, pilek, bersin, gatal pada hidung, telinga, tenggorokan, mata berair dan merah. Jenis obat alergi yang membuat mengantuk seperti chlorpheniramine, cyproheptadine, dexchlorpheniramine, doxylamine, pheniramine, dan promethazine jika digunakan sesuai dosis, aman diberikan pada usia kehamilan berapapun.

Sementara itu, penggunaan loratadine selama kehamilan termasuk aman dan tidak berkaitan dengan meningkatnya resiko terjadinya malformasi mayor. Gunakan dosis yang direkomendasikan dan dengan waktu penggunaan sependek mungkin.

Tetes mata yang mengandung komposisi obat berikut bisa digunakan untuk meredakan gejala:
  • Azelastine
  • Ketotifen
  • Levocabastine
  • Olopatadine
  • Naphazoline
  • Phenylephrine
  • Tetrahydrozoline

Penggunaan kortikosteroid semprot yang mengandung beclomethasone dan budesonide termasuk aman selama kehamilan.

Dekongestan dalam bentuk semprot juga bisa digunakan jika obat yang mengandung kortikosteroid dan antihistamin belum bisa meredakan gejala.

Batuk dan pilek karena Selesma.


Penyebabnya yang tersering adalah karena virus. Selama kehamilan lebih baik mengobati selesma per gejala. Maka obat dengan satu jenis komposisi yang lebih dipilih. Jika merasa tidak nyaman karena selesma, pilek, dan masalah pada sinus, periksakan ke dokter.

Gejala yang bisa dirasakan saat selesma :

- Nyeri dan pusing

Gunakan parasetamol saja, atau dengan kombinasi dengan kodein, ini bisa digunakan pada kehamilan dengan dosis yang direkomendasikan untuk mengatasi rasa nyeri yang ringan – sedang, seperti sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot atau untuk mengurangi demam.

Penggunaan NSAID seperti aspirin, ibuprofen, dan diklofenak digunakan untuk mengatasi sakit kepala, nyeri, dan gejala selesma lainnya. NSAID harus DIHINDARI saat kehamilan terutama pada usia kehamilan setelah 30 minggu karena bisa berbahaya bagi janin. Periksakan ke dokter sebelum menggunakan obat jenis NSAID selama kehamilan.

- Batuk

Untuk batuk kering, penggunaan penekan batuk seperrti pholcodine atau dextromethorphan termasuk aman selama kehamilan. Batuk kering yang mengiritasi biasanya terkait dengan postnasal drip. Untuk batuk yang berdahak, penggunaan pengencer dahak / ekspektoran seperti guafenesin atau mukolitik seperti bromhexine bisa digunakan pada dosis yang dianjurkan.

- Gejala pada hidung

Bisa menggunakan terapi inhalasi uap dengan sodium chloride 0,9% tetes hidung, atau semprot yang digunakan untuk meredakan hidung tersumbat selama kehamilan. Secara umum, penggunaan dekongestan berbentuk semprot pada hidung yang mengandung oxymetazoline atau xylometazoline bisa digunakan selama 3 – 5 hari. Ada resiko meningkatnya hidung mampet yang berulang jika menggunakan dekongestan pada hidung ini terlalu lama. Hindari penggunaan dekongestan oral seperti pseudoephedrine atau phenylephrine.

Sakit tenggorokan


Penggunaan obat yang mendandung anastesi dan antiseptik seperti lozenges yang digunakan untuk tenggorokan bisa dipakai selama kehamilan. Hindari penggunaan berlebihan karena efek sampingnya salah satunya diare.

Berkumur dengan air garam atau minum perasan lemon dan madu juga bisa meringankan sakit tenggorokan. Hindari berkumur dengan cairan yang mengandung iodine karena bisa menyebabkan gangguan tiroid pada ibu dan janin.

Bibir kering dan luka: Mencegah lebih baik daripada mengobati.
  • Gunakan lip balm dengan SPF 15+
  • Hindari stres
  • Hindari terlalu banyak paparan sinar matahari dan angin
  • Hindari luka pada bibir atau kulit
  • Hindari makanan atau minuman yang bisa memicu

Rekomendasi penanganan bibir yang terluka adalah dengan kompres dingin dan menggunakan lip balm untuk menjaga tetap lembab. Jika memberat, periksakan dulu ke dokter untuk penanganan selanjutnya.

Konstipasi/susah buang air besar


Tentu saja konsumsi serat dan banyak minum harus dilakukan dulu sebelum mempertimbangkan untuk minum obat. Perlu diingat saran dari dokter atau ahli gizi mengenai jenis makanan yang baik untuk dikonsumsi. Jika membutuhkan pencahar, maka tanyakan dulu ke dokter untuk jenis yang paling sesuai.

Pencahar seringkali melunakan kotoran, seperti docusate atau pencahar osmotik seperti lactulose aman untuk digunakan pada dosis yang dianjurkan selama kehamilan. Penting untuk menghindari pencahar yang bisa menyerap ke dalam darah atau memiliki efek stimulasi langsung pada usus seperti senna, garam epsom atau cairan paraffin. Penggunaan pencahar jangka panjang bisa mempengaruhi penyerapan beberapa vitamin.

Diare


Kebanyakan kasus diare akan sembuh dengan sendirinya tanpa memerlukan obat. Oralit adalah yang paling utama dibutuhkan untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang. Jika membutuhkan terapi lebih lanjut, dokter bisa memberikan kombinasi dari diphenoxylate dan atropine selama diare tidak terkait dengan infeksi. Penggunaan loperamid harus dihindari selama kehamilan kecuali disarankan oleh dokter yang memeriksa.

Nyeri ulu hati


Kebanyakan kasus nyeri ulu hati tidak membutuhkan obat-obatan. Cobalah makan dalam porsi yang lebih kecil dan lebih sering dan hindari makanan yang berbumbu, coklat, yang asam, dan juga hindari kopi. Hindari langsung tiduran setelah makan. Jika membutuhkan obat pereda gejala maka gunakan antasida. Bicarakan lebih lanjut dengan dokter untuk penanganan yang dibutuhkan.

Kutu dan Skabies


Semua anggota keluarga dan yang berkontak dekat dengan pasien yang memiliki kutu dan skabies harus diobati untuk mencegah penyebaran infeksi. Mengganti sprei, dan baju, cuci dengan air panas. Untuk kutu pada kepala, gunakan conditioner yang diberikan pada sisir untuk membersihkan kutu kepala dan telurnya setiap 2 hari sekali, hingga tidak lagi ditemukan kutu hidup selama 10 hari.

Kutu pada kepala dan skabies bisa diobati dengan salep/obat topikal seperti permethrin atau pyrethrin selama kehamilan. Tanyakan ke dokter untuk obat yang sesuai.

Sariawan


Sariawan akan sembuh dengan sendirinya. Sebagian obat yang bisa dibeli bebas di apotek seperti krim dan gel bisa membantu mengurangi rasa nyeri. Krim dan pasta untuk melindungi yang mengandung carmellose, dan pektin umumnya aman digunakan selama kehamilan. Hindari produk yang mengandung salicylic acid atau benzydamine selama kehamilan kecuali disarankan oleh dokter.

Keputihan


Keputihan adalah salah satu infeksi yang disebabkan oleh jamur yang sering terjadi pada kehamilan. Bisa menggunakan obat anti jamur topikal yang mengandung clotrimazole, miconazole, dan nystatin yang aman digunakan selama kehamilan. Dosis tunggal obat oral fluconazole tidak direkomendasikan digunakan selama kehamilan kecuali disarankan oleh dokter. Jika gejala keputihan tetap ada, periksakan ke dokter.

Tentu saja apa yang disampaikan disini tidak menjawab semua permasalahan kondisi kesehatan/penyakit saat kehamilan. Ada banyak kondisi dan obat-obatan lainnya yang belum dijelaskan, karena itu periksakan ke dokter.
Sumber: Royal Women Hospital, Melbourne.
Sumber Tulisan: FB dr. Agung Zentyo Wibowo

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Penggunaan Obat Pada Ibu Hamil

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 comments:

Post a Comment